Bukan Saya yang Sebenar-benarnya

Setiap orang punya sisi gelap, sisi terang, sisi kanan, sisi kiri
Tapi mereka nggak punya satu sisi : SISI-pan
Karena SISI-pan hanyalah tambahan

17 April 2017

Slice of Life : Sepasang Kaos Kaki Hitam

Judul Buku      : Sepasang Kaos Kaki Hitam
Penulis             : Ariadi Ginting
Penerbit           : Kaskus
Tahun              : 2011
Halaman          : 466


Pada halaman awal, tertulis bahwa cerita ini sempat booming di Kaskus dan mendapat banyak respon positif karena ceritanya yang inspiratif dan menarik, bahkan ada yang berusaha mencari Mevally yang asli. Kepopulerannya di dunia Kaskus membawa cerita ini ke publik dan menjadi terkenal pada masanya. Sepasang Kaos Kaki Hitam karya Ariadi Ginting memiliki latar yang unik. Berlatar tempat di sebuah kosan campuran di daerah Karawang, selain tempat, latar pendidikan dan pekerjaannya pun menarik. Ia membahas hubungan seorang mahasiswi dan seorang pekerja. Hubungan mereka yang awalnya buruk menjadi lebih baik bahkan berujung pada saling menyayangi. Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam banyak memberikan pesan-pesan tentang kehidupan lewat hubungan Ari dengan Meva, Indra, dan Lisa, seperti tidak baiknya kita terus mengurung diri jika mengalami kesusahan, tetapi kita harus bangkit dan harus berusaha mengatasi kesusahan itu.
Walaupun banyak menceritakan slice of life dalam ceritanya, Ariadi Ginting banyak menuliskan hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan bisa dihilangkan dari cerita. Banyaknya cerita itu membuat pembaca menjadi bosan dan agak jenuh karena apa yang diceritakan pun umumnya kisah Ari dan Meva. Mungkin penulis bertujuan membangun chemistry antara Ari dan Meva, tapi sayangnya adegan yang dimasukan ke dalam cerita agak menjenuhkan. Selain itu, menurut beberapa orang, cerita ini adalah cerita nyata dari seorang Ariadi Ginting sehingga ia memang benar-benar menuliskan momen-momen tak terlupakannya bersama Meva. Biarpun begitu, tetap saja halaman yang sebanyak empat ratusan halaman itu pun seakan beban berat bagi saya dan beberapa pembaca lainya karena isi ceritanya. Pada beberapa adegan dalam cerita ini, ada yang mengganggu, seperti pada adegan ketika Meva keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Bagaimana seorang perempuan bisa sebegitu beraninya, padahal Ari masih menjadi orang luar dan hal tersebut tidaklah pantas. Pertanyaan lain yang timbul adalah, bagaimana seseorang bisa bebas keluar masuk kamar dan sebebas itu, bahkan membiarkan pintu kamarnya tidak dikunci. Ada satu hal lagi yang belum dijelaskan dalam novel tersebut, yaitu beberapa foto dan artikel Koran yang ditemukan Ari ketika memasuki kamar Meva diam-diam.

Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam yang membahas kehidupan seorang Ari dan bagaimana ia bertemu Meva dan kemudian merubahnya menjadi perempuan yang lebih baik menurut saya memiliki pesan moral yang baik, tetapi penyampaian penulis kurang menarik sehingga membosankan saya sebagai pembaca.

Tidak Ada New York Hari Ini

      Judul Buku      : Tidak Ada New York Hari Ini
      Penulis             : M Aan Mansyur
      Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
      Tahun              : 2016
      Halaman          : 120
      Cetakan           : Ketujuh
       Buku Tidak Ada New York Hari Ini merupakan buku berisi kumpulan puisi karya M Aan Mansyur. Puisi-puisi yang ada di dalamnya terinspirasi dari skenario Ada Apa Dengan Cinta 2. Tidak hanya puisi, tapi juga ada foto-foto hasil Mo Riza di New York. Melihat Puisi-puisi itu berdasarkan skenario, tentulah memiliki kesinambungan antara yang satu dengan yang lain. Puisinya mengurut dengan jalan cerita Ada Apa Dengan Cinta 2, seperti ketika Rangga masih berada dalam masa ‘galau’nya karena berpisah dari Cinta, kemudian di puisi-puisi terakhir menunjukkan bahwa mereka yang telah bertemu akan berpisah lagi. Isi puisi-puisinya menunjukkan kesedihan, seperti apa yang dirasakan Rangga di dalam film. Banyak juga ditemukan kata-kata yang sulit diartikan sehingga harus berkali-kali membaca untuk memahaminya.

        Ada pun yang agak mengesalkan dari buku ini adalah harganya yang lumayan mahal tetapi hanya berisi 120 halaman dengan mayoritas berisi foto-foto hitam-putih, puisinya pun tidak disetiap lembarnya ada. Buku ini laku dipasaran karena bersumber pada film Ada Apa Dengan Cinta 2 dan itu pulalah alasannya mengapa buku ini mahal. Lagi, saya mersa bosan membaca puisi-puisinya, bukan tentang siapa yang membuat tapi isi dari puisinya yang melulu menceritakan kesedihan.


      Aan Mansyur sudah dikenal sebelum lahirnya buku Tidak Ada New York Hari Ini. Ia telah menciptakan berbagai puisi dan cerita pendek, seperti Hujan Rintih-rintih (2005), Perempuan, Rumah Kenangan (2007), dan Kukila. Sedangkan Mo Riza adalah seorang visual designer, ia sudah memiliki pengalaman selama dua puluh tahun dengan berlatar desai industrial dan interaktif. 

Summer Breeze dan Penulisnya yang Korea Banget

Judul Buku      : Summer Breeze
            Penulis             : Orizuka
            Penerbit           : Puspa Swara
            Tahun              : 2006 (cetakan pertama)
            Halaman          : 216

Orizuka merupakan nama pena dari seorang perempuan kelahiran Palembang bernama Okka Rizka Septiana. Nama pena yang terkesan Jepang ternyata berasal dari namanya sendiri.. Ia tinggal bersama dengan keluarga yang gemar membaca, ia pun sudah suka menulis sejak kecil, tetapi novel karya Mag Cabot berjudul Princess Diaries-lah yang berhasil membuatnya ingin mengasah kemampuan mengarangnya. Orizuka merupakan penulis yang produktif, ia telah menulis banyak buku sejak tahun 2005. Perempuan yang pernah berkuliah di Ilmu Komunikas Universitas Gadjah Mada itu memulai debutnya sebagai penulis novel dengan bukunya yang berjudul Me and My Prince Charming. Novel-novel miliknya sangat laris di pasaran hingga dapat terpajang di rak-rak bagian Best Seller, terbukti memang novel karangannya sangat menarik jika dilihat dari segi cerita dan alur, walaupun ceritanya kadang mudah ditebak dan mainstream.  Beberapa novelnya pun berlatar Korea, seperti Fate, Oppa and I, dan Invinitely Yours, kegemarannya pada negeri gingseng itulah alasannya sering menggunakan Korea sebagai latar. Salah satu novelnya yang semakin membuatnya bersemangat mengarang adalah Summer Breeze karena novel yang lahir pada tahun 2006 tersebut dijadikan sebuah film sehingga makin melambunglah perempuan penyuka film thriller ini.

Novelnya yang berjudul Summer Breeze bercerita tentang persahabatan antara Reina, Ares, dan Orion. Saat kecil, mereka mengikat sebuah janji, yaitu bertemu kembali sepuluh tahun dari saat itu di sebuah pohon untuk membuka surat yang mereka kubur. Janji mereka ternyata lolos begitu saja karena Reina harus melanjutkan studinya di Amerika. Ares dan Orion adalah saudara kembar dengan karakter yang saling berlawanan. Ares yang pemalas dan suka berkelahi, berbeda dengan Orion yang pandai dan rajin. Dalam novel tersebut, tentu saja ada kisah cintanya, yaitu Reina yang ternyata menyukai Ares dari kecil dan begitu sebaliknya, tetapi sebelumnya Ares tidak pernah memperlihatkannya pada Reina. Orion pun menyukai Reina, tentu saja mereka mengekspresikannya dengan cara yang berbeda. Selain masalah percintaan, novel Summer Breeze juga mengangkat hubungan keluarga antara Ares, Orion, dan orang tua mereka. Orang tua mereka seakan lebih memprioritaskan Orion dan lebih membanggakannya dibandingkan Ares karena prilaku Ares yang buruk. Sebenarnya, prilaku Ares tersebut seperti sebuah pemberontakan atas perlakuan orang tuanya yang dirasa tidak adil. Ketidakadilan itu disebabkan dengan lamban berkembangnya Ares dan dianggap nakal, padahal Ares memiliki disleksia dan penyakit tersebut tidak diketahui oleh orang tuanya.
Seperti dalam novel-novelnya yang lain, tulisan Orizuka mudah dipahami dan kekinian sehingga pembaca tidak kesulitan. Penggambaran karakter tiap tokohnya pun dapat membuat tokohnya hidup, akan tetapi ada beberapa hal yang agak sedikit berlebihan, yaitu hubungan antara Ares dan orang tuanya. Dalam novel, bahkan orang tua Ares tidak tahu di jurusan apa Ares berkuliah karena nyatanya apapun yang berhubungan dengan perkuliahan tentu membutuhkan persetujuan orang tua. Tidak hanya itu, dalam hampir setiap novel Orizuka, terutama di dalam Summer Breeze, tokoh perempuan digambarkan memiliki paras yang sempurna karena walaupun memang ada, terasa kurang nyata. Dari segi cerita Summer breeze pun terasa mellow dan banyak sekali bagian yang mengisahkan percintaan yang tdak jauh-jauh dari cinta segitiga, sehingga pembaca menjadi bosan karena terlalu terpaku ke sana.


Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai Karya Boy Candra

Judul Buku      : Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai
Penulis             : Boy Candra
Penerbit           : Media Kita
Tahun              : 2015
Halaman          : 248

Populer menurut KBBI berarti dikenal dan disukai orang banyak, sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya, mudah dipahami banyak orang, dan disukai dan dikagumi orang banyak. Ketika berbicara tentang sastra populer, kita akan tertuju pada novel-novel saat ini yang banyak dibicarakan orang-orang, terpajang sebagai best seller di toko buku, dan berpuluh-puluh bahkan ratusan deretan novel karangan penulis saat ini yang terpajang di rak buku. Saat ini, kisah percintaan sangat populer, novel yang beredar di toko-toko pun kebanyakan menceritakan kisah cinta. Percintaan sangat digemari karena berhubungan dengan keidupan sehari-hari para pembacanya, sehingga mudah bagi mereka untuk memahami dan memvisualisasikan apa yang dibaca. Selain itu, sastra popular pun umumnya menggunakan kata-kata yang mudah dipahami pembaca. Salah satu novel populer pada beberapa tahun terakhir adalah milik Boy Candra, Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai.

Lelaki kelahiran Padang, 21 November 1989 ini memulai karier menulisnya di tahun 2013 bersama buku pertamanya yang berjudul Origami Hati. Berkali-kali ditolak oleh penerbit, akhirnya novelnya itu diterima, bahkan mendapat respon positif dari pembaca. Novel-novel yang sudah dibuatnya bertema percintaan, baik itu tentang kerinduan, patah hati, maupun jatuh cinta. Novel-novelnya terkesan melankolis. Bagi pembaca yang masih remaja tentulah novel ini akan menarik perhatian mereka mengingat remaja-remaja sangat menyukai cerita-cerita cinta.

Ketika membaca judul novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai, pandangan saya tentang novel tersebut tentulah berkisah tentang hal-hal yang sendu sehingga menurunkan ketertarikan saya membaca. Kemudian saat saya melanjutkan membaca isi buku, benar saja isinya sangat romantis, pilihan katanya mudah dipahami, dan dapat membuat pembaca membayangkan dan mengingat hal-hal yang romantis. Kalimat-kalimat dalam novel ini pun sering kali dijadikan kutipan romantis. Kendati begitu, novel ini bukanlah selera saya. Sering sekali saya temukan kalimat-kalimat yang berlebihan, seperti ‘Bila saat itu tiba, aku berharap waktu tetap saja melambat bersama kita. Agar aku bisa menatap matamu berlama-lama. Agar aku bisa menikmati senja, juga hujan-hujan yang pernah membuatku merindu buta. Semoga segala hal yang kita jalani kini. Seberat apa pun usaha menjaga hati. Tidak hanya menjadi lelah yang tak berarti’. Berlebihan di sini bukan merujuk pada kata-katanya, tapi arti dibalik kata-kata itu. Novel yang seperti ini pun akan membuat para remaja memiliki ekspektasi tinggi terhadap pasangannya nanti dan menurut saya tidak begitu baik. Walaupun demikian, novel ini patutlah dibaca karena setiap novel memiliki nilai dan tujuannya sendiri untuk pembaca.

Ini hanya pendapat subjektif saya sebagai pembaca.




2 Februari 2017

Krisis Apresiasi

Selamat bagi kalian yang berhasil menemukan tulisan ini!!
Tulisan ini dibuat karena semua orang membutuhkan apresiasi.

Beberapa hari yang lalu gue melakukan pencarian di Google mengenai krisis percaya diri. Alasan gue mencari adalah gue merasa ada hal yang perlu gue cari tahu tentang diri gue dan ternyata gue memang krisis percaya diri. Dari hasil pencarian, ciri-ciri krisis percaya diri yang paling terbukti nyata adalah ketika kita membicarakan kekurangan orang lain atau mengomentari apapun yang salah dari prilakunya. Hal itu dilakukan untuk mencari kelemahan orang lain sehingga kita merasa bahwa ada orang yang sama buruknya atau lebih buruk dari kita. Dan tentu aja, itu membuktikan bahwa kita perlu apresiasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Apresiasi atau penghargaan terhadap sesuatu tidak mesti selalu barang, dengan ucapan pun bisa.

Sebagai contoh pertama, seorang yang bekerja. Pekerja ini mendapat tugas dari bosnya untuk membuat laporan keuangan, misalnya. Dia sudah menyelesaikannya, tapi ternyata hasil pekerjaanya ada yang salah. Sekarang kita akan membagi kasus ini menjadi dua, pertama ketika si bos memarahinya karena membuat kesalahan, pekerja itu pasti merasa down, dia sudah melakukan pekerjaanya, tapi hasilnya kena marah, dan ini memberikan beberapa dampak tergantung pada pribadi masing-masing. Bisa saja pekerja ini justru termotivasi dan terus ingin melakukan yang terbaik, tapi bisa juga ia justru merasa dirinya rendah, hingga rasa percaya dirinya berkurang. Kalau menurut gue sendiri yang hanyalah mahasiswa Sastra Indonesia semester dua, pada ujungnya kedua tipe respon itu berujung pada membicarakan kejelekan orang lain yang bekerjanya lebih baik darinya karena dia ingin tidak hanya dia yang jelek, tapi orang lain juga. Kasus kedua, jika si bos memberikan apresiasi terlebih dahulu, seperti ucapan terima kasih, atau suatu pujian yang bisa meningkatkan rasa percaya diri pekerja, lalu kemudian baru memberitahukan kesalahan pekerja ini. Respon dari pekerja ini tentu akan lebih positif. Begitu ia keluar dari ruang si bos, wajahnya tentu tidak akan sekecut ketika ia dimarahi begitu saja oleh si bos. Tapi ya, ini hanya hipotesis dan pendapat dari gue aja yang bukan mahasiswa psikiologi.

Contoh kedua adalah ketika kita curhat. Kalau contoh yang ini, gue mengalami sendiri dan mungkin beberapa temen gue juga. Tujuan kita curhat pada seseorang adalah untuk didengarkan apa pendapat kita sendiri mengenai masalah yang kita hadapai, kadang kita hanya butuh didengarkan dan kadang butuh solusi. Misalnya, kita curhat tentang suatu masalah dan memberikan pendapat kita tentang masalah itu, jujur aja, kita menginginkan ada orang yang sependapat dengan kita dan akan merasa kecewa ketika kita tidak sependapat. Selain itu, ketika kita curhat tentang apa yang telah kita perbuat dan mendapat respon bahwa apa yang kita lakukan itu salah, tentu aja itu membuat kita merasa semakin salah dan merasa bahwa curhatnya ini tidak akan berhasil karena ia pun menganggap apa yang kita perbuat itu salah (walaupun pada dasarnya salah). Mengapa begitu? Jangan pernah lupakan bahwa setiap manusia itu memiliki ego. Lalu bagaimana cara meresponnya? Kalau salah kan harus bilang salah, masa dibenarkan? Ya memang salah, tapi apa salahnya memberikan respon positif dulu mengenai pendapat kita atau atas apa yang telah kita perbuat. 

Memberikan apresiasi itu mudah, tapi menangani orang yang kurang apresiasi bahkan telah mencapai pada krisis percaya diri itu susah. Kita bisa lihat banyak orang-orang berbakat dari Indonesia memutuskan untuk berkelana ke negara lain karena merasa ia tidak diapresiasi di Indonesia, kan itu membuktikan betapa apresiasi itu diperlukan, terlebih lagi untuk membangun suatu karakter, baik karakter setiap orang atau bangsa itu sendiri. Jadi, cobalah untuk memberikan apresiasi pada siapapun atas apa yang telah dilakukannya sekecil apapun, dan jika apa yang dilakukanya itu salah, beritahu kesalahannya setelah kita memberi apresiasi. 

18 Januari 2017

Sudut Perspektif

Bukan tentang sudut perspektif dalam bidang seni lukis. Pemaknaan yang dimaksud di sini adalah tentang sudut pandang tiap orang. 

Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya hal yang terjadi karena perbedaan sudut pandang. Terlalu banyak kejadian, baik ataupun buruk disebabkan oleh perbedaan sudut pandang, entah mereka sama-sama baik, sama-sama jahat, atau berlawanan. Ketika seseorang melakukan sesuatu, selalu ada pertentangan, tanpa kita tahu pertentangan itu untuk tujuan yang sama atau berbeda. 

Tulisan ini juga terisnpirasi dari drama, film, dan berita-berita yang sedang gencar diisukan. Hal yang terlihat nyata sekali adalah ketika gue menonton K-drama berjudul Romantic Doctor. Drama ini mengisahkan tentang apa sejatinya tugas dokter itu, dan yang gue dapat, tugas dokter adalah menyelamatkan nyawa pasien no matter what happen, even we have to break the rules. Di samping pekerjaan dokter, ada juga seorang inspektur yang hanya sebagai tokoh sampingan yang tentunya punya tugas dan punya keyakinan rule is the rule. Kalau dilihat, tentu aja ini berlawanan. Setiap dari mereka harus mengerjakan pekerjaannya, tanpa tahu siapa yang harus mengalah. Di sinilah konflik yang menyentil gue menulis. Pada akhirnya, tanpa perlu berpikir terlalu lama pun life can break the rules. Lalu bagaimana dengan peraturan yang ada? Bagaimana dengan mereka yang harus mempertahankan peraturan? Duty and humanity. Which one?

Ketika mengambil keputusan, sering kita mengambilnya berdasarkan sudut pandang kita. Mengambil pilihan yang terbaik untuk kita dan saat keputusan itu diambil, ada keuntungan dan kerugian yang diterima orang lain. Benar atau salahnya keputusan itu tidak ada yang tahu. Keputusan yang diambil sepihak dengan memandang dari sudut pandang kita sendiri menurut gue ada salahnya. Kita tentu memilih yang terbaik. Paling baik, tapi kita juga harus melihat bagaimana dari sudut pandang orang lain, apa yang akan terjadi dengan dia yang secara tidak langsung mendapat imbas dari perilaku kita. Yang paling susah adalah memutuskan pilihan disaat terdesak. Memikirkan apa tindakan yang paling tepat tanpa merugikan salah satu pihak atau bagaimana menguntungkan semua pihak. Contoh yang paling mudah adalah ketika kita mengendarai, Ketika kita diharuskan memilih terjang terus ke depan hingga menabrak yang didepan atau menjatuhkan diri, atau mungkin ada pilihan yang lain yang lebih baik.

Dan gue benci banget sama orang yang memikirkan keuntungan untuk dia sendiri. Termasuk ketika gue melakukan itu. Gue kesal, betapa mereka terlalu egois, tapi di sisi lain kita juga punya hak untuk diri kita sendiri. Dunia ini banyak titik temu, sulit untuk menghindari pertemuan mereka, selalu ada garis yang menghubungkan satu dengan yang lainnya. Jadi, kita tidak bisa menyalahkan apapun pada orang lain atau pada diri kita sendiri, yang harus kita lakukan adalah melihat setiap perspektif kehidupan orang lain untuk mengerti tentang dunia ini karena dengan begitulah kita tau mana keputusan yang tepat.





15 Juli 2016

Akhirnya Masuk Sastra Indonesia UNPAD

Assalamualaikum, Sobatkuu :))

Kali ini gue mau memberitahu kabar gembira! GUE KETERIMA DI SASTRA INDONESIA UNPAD. Sekarang, gue mau menjelaskan kenapa gue bisa berujung di sana.

Kalian udah pada tahu belum sih kalau gue awalnya mau jadi arsitek saat masa-masa mau masuk SMA? Oke, jadi sebenernya gue masuk SMA lalu milih SMA 8 Jkt dan melewati lika-liku perjalanan anak IPA karena awalnya gue mau jadi arsitek, alasannya karena gue suka ngelihatin rumah-rumah, interiornya, eksteriornya, dan banyak lagi. Lalu semua itu berubah, bukan karena negara api menyerang ya (oke ini jayus). Ayah gue pernah bilang, "Kamu mau arsitek karena emang suka rumah atau emang pengen punya rumah kayak gitu?" Dan karena gue sadar diri juga nilai gue di IPA terlebih di eksak itu rasanya pengen gue injek-injek saking malunya gue dengan nilai gue yang jarang bahkan bisa sekali-sekalinya dapet bagus, akhirnya gue memilih mencari apa sih yang sebenarnya gue mau.

Lalu gue mulai menemukan titik terang. Gue suka nonton, memperhatikan apa-apa yang gue suka, gue juga suka bikin film walaupun kenyataannya gue cuma pernah bikin sekali dan gue rasa kurang berhasil wkwk tapi itu sangat menyenangkan dan membuat diri gue puas, gue akhirnya memutuskan untuk masuk ke jurusan komunikasi dan mengarah ke broadcasting. Gue mulai mencari-cari prospek kerja dari komunikasi itu bisa kemana aja dan emang luas banget, alhasil gue menentukan kalau gue mau jadi produser atau nggak script writer. Sampai situ dulu.

Gue mulai berpikir lagi nih, sebenernya apa sih yang gue mau, mau jadi apa sebenernya. Setelah berpikir panjang dan beribu alasan akhirnya gue lebih condong ke alur cerita suatu drama, sinetron atau film, gue suka berada di situ dan akhirnya gue pun memutuskan buat masuk sastra Indonesia aja. Kenapa? Karena di sana gue bisa tahu lebih dalam tentang seluk beluk sastra di Indonesia dan bagaimana orang-orang mengapresiasi sastra dan sebagainya, gue juga bisa memperdalam tulisan gue kalau gue di sana. Jadi lah fix gue milih masuk sastra Indonesia.

Gue mulai memilah, mencari sastra Indonesia dari univ mana yang mau gue jelajahin. Ya dan nggak lain nggak bukan gue maunya masuk UI, selain itu karena ke sana tinggal naik kereta doang. Yaudah kan gue fix mau masuk sana, tapi ternyata Tuhan berkehenak lain. Saat SBMPTN gue malah nyangkut di sastra Indonesia UNPAD. Saat tahu itu gue kesel, dan mengatakan hal-hal yang seharusnya nggak gue katakan, kemudian beberapa detik setelahnya gue sadar. Ini jalan gue, gue nggak boleh marah atau pun kesal, gue harus bisa mensyukuri apapun yang udah dijalankan untuk gue karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat gue.

Sekarang gue udah menerima gimana pun jadinya gue di UNPAD nanti, mungkin dengan gue kuliah di sana gue bisa lebih mandiri dan menjadi orang yang lebih baik. Pokoknya sekarang ini gue akan mencoba untuk nggak ngedumel dan merasa menyesal dengan apapun yang udah terjadi.

Haha begitulah lika-liku gue dalam menentukan jurusan kuliah. Semua itu karena gue nggak mau salah masuk jurusan dan mencoba menyesuaikan jurusan dengan apa yang gue sukai dan mau.

2 Januari 2016

Tahun Baru

SELAMAT TAHUN BARU 2016

Tiga puluh satu Desember, malam satu Januari. Apa bedanya dengan tiga puluh satu Oktober, malam satu November? Pindah bulan nggak pernah dirayain, tapi pindah tahun? Jangan ditanya, pesta besar-besaran terjadi dimana-mana bahkan di rumah gubuk pun iya. Atau perayaan itu khusus mengenang pergantian dari tiga pulih satu Desember ke satu Januari? Enggak, umur masehi yang bertambah, lalu saat umur masehi bertambah lantas apa? Bukannya itu pertanda kita semakin tua? Kenapa semua orang merayakannya?

Tunggu, pertanyaan itu semua ada di benak gue begitu aja saat gue nulis ini. Masalahnya, nyatanya gue juga nggak begitu menikmati pergantian tahun, semuanya sama aja. Ya, kecuali ada petasan dimana-mana, bakar-bakaran dan kadang kumpul bareng keluarga. Awalnya gue merasa excited,  tapi selanjutnya udah. Nggak ada rasa apa-apa, gue cuma dikasih arti bahwa dikedepannya kehidupan akan semakin banyak rintangan dan jangan pernah berharap kehidupan lebih baik di tahun selanjutnya kalau kamu nggak melakukan apapun untuk memperbaiki kehidupan kamu. 

Yang paling nggak gue habis pikir adalah, gue mengucapkan 'Happy new year my future husband'.  Itu adalah satu dari banyak hal konyol yang gue ucapkan, tapi itu adalah hal konyol pertama gue di tahun 2016. Emang gue kadang suka akting kayak ftv, sinetron, drama korea dan sebagainya, habis gimana dong otak gue udah keburu keisi sama hal-hal yang diluar akal gitu gara-gara gue sering menyerap apa yang gue tonton. Oh, enggak, gue salah. Itu semua justru asik, bagi gue, si Tukang Ngayal.

Saat tahu bahwa tahun baru udah dimulai, yang gue pikirin adalah gimana nasib Ujian Nasional, undangan, SBMPTN dan berbagai hal yang berhubungan dengan kelulusan sekolah juga tes ke tingkat kuliah. I'm gonna be maba. Tahun 2016 gue akan jadi mahasiswa baru di salah satu univ yang terbaik untuk gue. Gue mau nyerong, pindah jurusan, ke IPS. Kenapa? Karena alasannya udah pasti dan merupakan alasan basi jadi gue gak perlu menjelaskan lagi.

Harapan lo di 2016 apa, Tem?
Siapa sih yang nggakberharap lebih baik kedepannya? Gue cuma berharap semoga gue bisa melakukan hal yang dapat membuat hidup gue lebih baik. 

14 Juni 2015

Malam

Kuning menyala ramaikan malam
Kunang-kunang nan indah
Sepinya malam bagai gaduhnya siang
Kutanya kawanan jangkrik
Bagaimana bunyinya
Tikus menjawab, cit cit cit
Beri segumpal keju tak bisa buat mereka diam
Kumpulkan ribuan mereka, bau merekah
Lalu datang seekor musang
Mencari mangsa nan enak
Matilah ayam tetangga
Sungguh, kukira ayam mati karena beradu sesama

Kemudian kulihat atap bumi
Penuh sinar berkelip
Dan ada cahaya bulat besar, bulan namanya
Teringat lagu dulu
Ambilankan bulanbu
Kukira astronot jawabannya
Ternyata mimpi

12 Juni 2015

Surat untuk Kamu

Hai, kamu?

Aku gak tau, kamu itu siapa. Tapi jelas surat ini untuk kamu. Aku gak berani bilang siapa kamu itu, karena bagiku, kamu adalah rahasiaku.

Kalau aku boleh sekali saja memutar waktu, aku ingin kita tidak pernah bertemu. Karena aku tahu, akibat pertemuan itu kamu dan aku saling mengenal, kemudian kita saling menyakiti dan berpisah. Itu sakit.

Peremuan kita saat itu pun terbilang singkat, benar-benar singkat. Akan kubuat kamu mengingatnya kembali

Sore hari, angin yang cukup kencang berhasil membuatku berdiam di toko kecil pinggir jalan, dari perkiraan cuaca yang kudengar pagi tadi memang akan terjadi badai, tapi aku tidak mengira badainya bisa sedahsyat ini, berbicara dan membuka mata saja rasanya takut-takut. 
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu di toko kecil ini, aku tidak berani melawan angin kencang, bisa-bisa aku terbawa olehnya karena berat badanku juga ringan. Bisa kubilang, aku sangat kurus? Ya, teman-temanku bilang aku seperti papan yang tipis. Entahlah aku harus tersinggung atau tidak. 
"Huaahh! Gue harus cepet-cepet nyampe rumah! Harus cepet!" Suara cempreng dan keras itu berhasil mengambil perhatianku. Anak perempuan seumuranku itu berlari sambil memgangi kantung-kantung plastik, seperti habis belanja. Karena aku memperhatikannya terus-menerus, ia menoleh dan tersenyum padaku. 
"Hei! Cepet pulang anginnya kenceng!" katanya dan kemudian dia terbatuk. 
"Haha, pasti. Hati-hati!" kataku, kemudian dia berlalu.

Lalu kemudian kita bertemu lagi, di tempat yang berbeda. Seminggu setelahnya kamu mengunjungi rumahku dengan tujuan ingin mengenal tetangga baru. Aku senang kita bisa bertemu lagi, tapi sepertinya tidak dengan kamu yang justru menampilkan wajah kusutmu saat bertamu di rumahku. Aku pikir kamu tidak suka aku, tapi ternyata wajahmu seperti itu karena kamu baru bangun tidur.

"Maaf ya, muka gue kusut banget. Nyokap tiba-tiba minta anterin ke rumah lo di saat gue lagi ngantuk-ngantuknya." Dia bercerita tanpa aku minta, kami berada di halaman belakang rumahku. 
"Oiya, kenalin, gue Tya. Nama lo?" Ia mengulurkan tangannya.
"Gue Sena. Btw, lo cewek gue cowok. Tapi seakan lo menganggap gue cewek juga. Gue gak terima," kataku dengan nada tidak suka. Aku hanya bercanda.
"Hehehe, maaf, Sen, dulu gue sekolah asrama putri, ketemunya cewek-cewek terus, jadi terima nasib aja ya, tetangga baru?" Dia tertawa, menggemaskan. 
"Udah biasa sih sama nyokap gue digituin, tenang aja. Btw lo gak apa-apa abis makin angin minggu lalu?" tanyaku dan dibalas tawa olehnya.
"Hahaha yaampun, lo harus tau gara-gara minggu lalu itu, badan gue merah-merah dikerokin, udah bisa jadi benderanya banteng kali tuh." 

Dan setelah itu, kita berteman baik. Kamu sering berkunjung ke rumahku dan begitu sabaliknya. Sampai aku menjadi orang ketiga antara sepupumu dan pacarnya. Dan bodohnya aku yang hanya fokus pada dia.

"Sen, lo tuh terlalu melihat gue. Apa lo gak pernah coba sekali aja gak ngeliat gue dan coba liat yang lain? Dia nunggu lo, dia sabar sama lo. Gue yang merasa bersalah sama dia, Sen! Dan gue udah punya pacar, Sena! So, please, you must open your eyes and see!" Wajah Kamel memerah, aku tahu dia marah. Aku berhasil menjadi parasit dalam hubungannya.
"Tapi gue cuma mau lo, Mel. Gue sayangnya sama lo." 
"Tapi gue sayang sama Arvin, Sen! Tolong hargain gue."

Kamu, Tya. Kamu pergi dan aku pergi. Semoga tujuan akhir kita sama.
Kamu, rahasiaku. Semoga kita bertemu.

Masalah? Setiap Inci

Jadi?
Hai, gue Temmy! Gue masih di sini, masih jarang banget ngepost, tapi masih sering berkhayal kok :)
Kayaknya gue ngepost enam bulan sekali ya kalau di liat-liat post-an gue? Haha, ya abis gimana ya, ada faktor males dan faktor mager dan banyak faktor lagi yang mempengaruhi.
Dari terakhir gue ngepost, ada banyak banget cerita yang sampe gue lupa apa aja yang udah gue lewatin selama enam bulan terakhir ini. Banyak cerita, entah itu berhasil bikin gue ketawa sampe sakit perut atau bikin gue nangis ngejer. Dari keluarga gue, temen gue sampe orang yang gak gue kenal. Dan lagi, ini blog gue. Dan suka-suka gue mau melakukan apa sama blog gue. :) Gue hanya melakukan apa yang gue mau dan suka.

Dari enam bulan terakhir ini, gue sadar masalah setiap orang, dimulai dari diri dia sendiri, berlanjut ke keluarganya, temannya, pelajarannya, pekerjaannya semua beda! Dan terkadang keinginan gue untuk menjadi orang lain berasa langsung ditepis begitu gue mengingat masalah orang lain. Gue sadar, gak cuma gue doang di dunia ini yang punya masalah, temen gue mungkin punya masalah yang lebih besar, yang bahkan gue sendiri gak tau gimana bantu dia nyelesaiinnya. Yaa gue bukan pemberi nasihat yang baik dan gue bukan pelaku yang baik juga untuk ngejalanin nasihat.  

Bagi gue masalah yang paling berat itu dimulai dari diri sendiri. Siapa yang tau sih pikiran orang lain, bahkan ya, gue sendiri gak tau apa sih yang sebenernya gue pikirin. Setelah diri sendiri, maslah keluarga. Itu masalah besar yang bisa menghubungkan kesegala-galanya. Kalo lo ada masalah sama keluarga, lebih baik diselesaiin secepatnya karena bisa aja masalahnya merembet kemana-mana, ke diri lo dan orang disekitar lo. Gue mungkin gak punya masalah yang besar sama keluarga gue but tetep aja pasti adalah. Setelah itu temen, punya masalah sama temen gak berarti lebih baik dari pada punya masalah di keluarga. Huufthhhhhh pokoknya masalah tuh gak akan pernah lepas seinci pun dari kita. 

Gue mau cerita banyaakkk banget! Tapi gue udah lupa mau nyeritain apa dan bingung gimana ceritainnya. Gue pengen banget nyeritain masalah "ini" ke seseorang but I can't gue gak berani, entah kenapa wkwk lucu ya, apalagi kalau gue inget gue pernah nulis lebih baik cerita masalah ke orang lain dari pada disimpen sendiri di essay LIA HAHAH, berasa munafik :) 



26 Desember 2014

Liburan Abu

Selamat hari Jumat! Selamat liburan semster! Pasti pada pulang kampung ya? Huh :(gue enggak. Padahal pengen sih tapi gak ada rencana begitu, bahkan niatnya maunya liburan bareng temen, tapi rasanya gak enak gitu yaa ninggalin orang tua di rumah, kemaren aja gue di rumah sodara sampe malem ninggalin ortu gak enak gitu rasaanya.

Oke, liburan ini sebenernya gue udah punya rencana macem-macem. Dari ngapain aja di rumah, mau kemana aja, harus ngelakuin apa. Dan sampe sekarang semua itu belum dijalankan seutuhnya. HAHA jiwa malas gue masih melekat deh, rasanya pengen baca wattpad mulu, denger lagu playlist di youtube, nonton, main, dan lain-lain selain rencana gue itu. Gue ngerasa bebas banget aja rasanya pas liburan ini. Gue tau sih gue salah, harusnya gue gak boleh kayak gini, tapi gue harus bisa ngerubah kebiasaan jelek gue ini gimana pun caranya. 

Liburan ini, niat pertama gue adalah bikin film bareng temen-temen untuk lomba di salah satu sma di jakarta, temanya IMPIAN, gak susah untuk nyari cerita tentang hal itu, tapi gimana kita mengemasnya menjadi suatu yang menarik itu yang susah. Kalian tahu gak kenapa aku tertarik untuk ikut lomba itu? Semua itu berawal dari film bahasa inggris. Gue tertarik banget dari situ untuk bikin film, gue kerjasama deh akhirnya sama temen. Hemm.. jujur, gue mau jadi sutradara, ngarahin pemain harus ngapain dan gimana, tapi rasanya kenapa gak mampu ya... rasanya percaya diri gue langsung menurun... dia lebih baik dari gue. Itu yang ada dipikiran gue saat bukan gue yang ngarahin, tapi dia. Disitu gue sadar, gue gagal, ini bukan film gue. Dalam penulisan script -pun bukan gue yang ngasih ide, gue cuma nulis script dan dia yang memperbaikinya. Gue sadar lagi, gue gagal. Gue bingung harus apa jadinya, Gue terlalu percaya dan bergantung sama dia walaupun dia gak berharap gue bergantung atau terlalu percaya sama dia. IMPIAN gue, salah satunya bikin film, karya gue sendiri, kesannya egois, mau menang sendiri tapi... gue ingin itu terwujud. Susah. Harus gimana kalo udah gini? Salah gak sih gue? Gue bukan tipe gak mau ngalah, justru terkadang gue suka ngalah sama temen-temen gue tanpa mereka saadarin... gue gak peduli, asal mereka seneng, gue juga seneng ada di samping mereka. 

Selain itu, liburan ini, gue juga harus mikirin subsi fleksibel gue, mau dibawa kemana itu subsi? Gimana caranya bikin anggota  gue aktif, gimana caranya supaya kegiatan subsi flek gue lancar? Tau gak betapa tertekannya gue mikirn itu, seakan itu masalah akut yang gak bisa ilang. Nyadarin mereka itu susah banget, gue nyari cara untuk mereka sadar, tapi gak mudah. Apa mereka gak tau rasanya diabaikan? Egois. Mereka egois. Apa mereka gak mikirin gue yang punya masalah untuk diri gue sendiri selain ngurusin subsi flek gue, ngurusin mereka? Apa sih yang mereka pikirn tentang gue? Rasanya gue gak peduli, tapi gue pengen tau!! Gue kesel, tapi gue tahan, gue marah, tapi malah diketawain, due diabaikan, gue lagi ngelucu, gak ada yang nanggepin. MAU MEREKA APA? Sedih gueee :"( tapi mereka gak tau, mereka gak ngerasain, mungkin harus ngerasain dulu gitu baru mau nurut? Banyak juga yang bilang, lepas aja mereka yang gak peduli. Tapi gak bisa! Ada suatu ikatan dimana mereka harus tetep stay di subsi flek gue. 

Salah gak sih gue curhat di medsos? Rasanya lebih rileks kayak gini, karena gue kurang begitu suka curhat sama orang-orang disekeliling gue. Di sini rasanya lebih bebas, gak ada yang ngomentarin betapa bodohnya tingkah gue, betapa memalukannya tingkah gue, gak akan ada yang marah sama gue. Kalau pun ada yang liat tulisan gue, masa bodo, Gue nyaman curhat di sini. Gue bersyukur juga kalo ada yang liat, seenggaknya mereka cukup tau aja, gak nyebar, dan gak nanya apapun sama gue :) 



26 Oktober 2014

PRAMUKA THE EXPLORER

Setelah persiapan yang rempong bin ribet bin seru dan hal-hal yang bikin persiapan PTE menarik akhirnya PTE jadi juga woyy!! Tau gak sih seneng dan bahagianya kayak apa? Akhirnya usaha kerja keras buat ngejadiin tuh proker jalan terbayar dengan PTE yang berhasil dilaksanain tanggal 18-19 Oktober di Pulau Harapan. Buat yang gak tau PTE, gue bakal jelasin di sini :)

PTE atau singkatan dari Pramuka the Explorer. PTE ini salah satu proker dari Subsi Pramuka SMA Negeri 8 Jakarta. Gue pernah ngejelasin kan sebelumnya kalo gue ikut Subsi Pramuka? Yay dan PTE ini itu salah satu prokernya yang udah terbayang-bayang gitu di benak gue gimana keseruannya. PTE ini awalnya diadain cuma untuk Subsi Pramuka aja, cuma PTE kemaren dibuka untuk angkatan 2016, siapa aja boleh ikut, yaa walaupun pemberitahuan siapa yang mau ikut PTEnya itu h-seminggu.

Tapi bener deh perjuangan juga ngadain nih proker, dimulai dari ngurus proposal yang gak selesai-selesai, ada beberapa masalah intern, terus nyari tanda tangan ibu kepsek tercinta yang baru pulang dari Jepang h-6 hari sebelum PTE bayangin setresnya gimana! Takut banget gak jadi tau gak :(

Sekarang gue bakal cerita gimana PTE kemaren...

Dimulai dengan ngumpul di SMAN 8 jam setengah 5 pagi. Pagi banget kan? Tapi kalo udah niat sih sepagi apapun bakal dijabanin yaa. Oiya, PTE diikutin 35 peserta ditambah 2 orang guru yaitu pak Adin dan bu Citra. Kami emang dateng pagi-pagi banget tapi sempet ngaret berangkatnya. Kami baru bener-bener berangkat ke Pelabuhan Muara Angke jam 5.15 pagi, udah lumayan telat yaa, soalnya harus sampe di sana jam 6an kalo mau dapet tempat dan nyaman di kapal, soalnya kapalnya gabung sama penumpang yang lain. Dari Sekolah ke Muara Angke itu naik 1 metromini dan 2 mobil tambahan.

Sampai di Muara Angke jam 6 lewat, setelah itu kami ngumpul dulu di pom bensi Pelabuhan Muara Angke karena sempat kepisah kan kendaraannya beda-beda. Begitu semua udah kumpul, barulah kami semua naik ke kapal. Gue seneng banget deh mereka para peserta PTE itu kayak excited gitu. Perjalanan dari Muara Angke menuju Pulau Harapan itu sekitar 3 jam-an, lama banget kan? Emang! Di dalam kapal itu macem-macem deh yang dilakuin, dari tidur sampe kelilingin kapal juga ada wkwk pokoknya ngelakuin hal yang gak bikin bosen. Di kapal ada beberapa orang yang muntah, termasuk gue! wkwk padahal gue gak pernah muntah sebelumnya. Oiya, ternyata antimo sirop itu enak wkwkw pengen lagi masa jadinya:(

"Lautnya bersih dan biru banget!" itulah kalimat yang gue denger begitu kami nyampe di Pulau Harapan, Kep. Seribu. Sampai di sana kami udah ditunggu sama pak Rahman, guide kami selama di sana. Kami langsung menuju homestay yang di dalemnya udah ada makan siang. Sayur asem boooo makannya, yey banget! Aahh kerupuknya enak banget lagiii banget, oke mungkin keenakan kerupuk ini hanya gue dan Najla yang merasakan.

Selesai makan, yang cewek langsung berpindah homestay, karena homestay yang kami tempatin buat makan siang ini bakal jadi tempat tidur para cowok. Untugnya di homestay tempat cewek ini lebih luas dan samping homestaynya itu loh! ada tempat beli bakso dan minuman, ada warung lagi di depannya. PeWe banget deh pokoknya. Begitu sampai di homestay cewek, langsung aja kami semua ganti baju, pake sunblock dan lain lain karena kami mau snorkliingg! Yuhu! Rempong banget deh yaa para cewek, takut item tapi demen snorkling-an yang pastinya bakal bikin keling.

Di kapal nelayan ini, kami mengarungi laut wkwk lebay banget dah, pokoknya snorklingnya seru banget lah ya, ditambah kita foto bawah laut, di fotoin sama bapak-bapak perenang yang maaf gue lupa namanya. Keindahan bawah lautnya juga sumpah indah banget! ada dori! gue gak liat ikan yang mirip nemo:( gue liat ikan yang item-putih kayak zebra gitu. Dan yang lebih wawnya lagi, akhirnya gue bisa liat gimana sih bulu babi itu, yang cuma gue liat di permainan ikan-ikanan doang sama di tipi tipi. Tapi kasian Livvy, tangannya kena kerang api, jadi kayak bentol-bentol gitu. oiya, terus ada beberapa dari kami yang hunting bintang laut, pengen di bawa pulang deh rasannya.

Setelah snorkling beberapa jam, akhirnya kami mengunjungi Pulau Macan, yang pasirnya putih. Di situ kami main-main pasir, banana boat yang bukan benran banana boat. Pas main pasir, kami main kubur-kuburan yitu ngubur Iffa dengan pasir! wkwk itu kocak banget! Pas naik banan boat ggue bareng Awe, Barry sama Agung. Posisi gue gak PeWe banget pas naik itu, sampe ngubah posisi berapa kali, padahal boat yang narik kami udah jalan dan udah jauh juga dari pantai. Setelah udah lumayan jauh banget dari pantai si bapak tiba-tiba nyuruh kami berempat untuk lebih maju duduknya dan JENG JENG JENG JENG jatuhlah kami berempat ke laut. Gue sempet mikir 'mati-mati gue mati' wkwk soalnya itu boatnya niban badan gue, gue sampe gak bisa naik gitu kan gara-gara ketahan, mending gak pake pelampung biar bisa bebas gitu berenangnya, tapi gak juga sih.

Di Pulau Macan, kami nikmatin sunset juga! Yey, tapi sayang ketutup awan gitu. Akhirnya setelah foto-foto berapa kali, kami balik ke kapal dan balik ke Pulau Harapan. Dan kalian tau? Bisa sejaman kali kami di kapal! sampe malem, sampe bintang-bintang muncul banyak di langit, antara ngantuk dan kedinginan... katanya sih ngikutin arus jadi lama nyampenya.

Nyampe di homestay, langsung berebut pada mandi wkwk, pasir-pasir udah nempel kali ya di sekujur tubuh, rambut pada kering gitu, pokoknya udah pada ancur banget deh. Setelah semua selesai mandi dan makan malem, tibalah bbq-an dan api unggunan juga tentunya. Kami sempat baca Dasa Dharma dulu sebelum benar-benar makan ikannya. Semua udah jadi kayak orang rakus begitu ikannya selesai di bakar. Hari itu benar-benar capek banget. Buktinya begitu balik lagi ke homestay langsung pada tepar, dan enggak buat gue, Iffa, Audy, Fira dan Syibud, kami main kartu dulu dari cangkulan sampe tepuk nyamuk. Dan saat itulah masa-masa freak gue - kami semua muncul. Intinya tengah malem itu kami ketawa-tawa ngelakuin hal freak deh.

Keesokan paginya setelah makan pagi, kami jalan-jalan lagi ke pulau, kali ini buat ngeliat penangkaran penyu dan tempat penanaman mangrove, penyu-penyunya so cute! Abis dari situ kami berkunjung ke pulau, lupa pulau apa namnya, intinya pulaunya bagus banget, di situ semua pada foto-foto, main pasir, dan lain-lain.

Jam 11 siang, kami sampai di Pulau Harapan dan you know what?! Kapal buat balik ke Muara Angke bakal berangkat jam 12 siang! What the hell--o? semua orang udah kayak kesambet cepet-cepet mandi, teriak cepet-cepetan dan lain-lain. Semua udah kayak orang kalang kabut. Semua juga udah panik banget deh intinya.

Tapi akhirnya kapalnya kekejar juga! Akhirnya kami bisa balik dengan kesedihan karena harus ninggalin Pulau Harapan padahal masih pengen banget lama-lama di sana. Balik lagi, kalo udah di kapal ada yang tidur, nyanyi dan muntah... kapal yang kami naikin ini penuh banget guyss!!! Mana hampir ketinggal kan tadi untungnya ada pak Kusnandi :3 dia itu nahkoda kapal colombus, kalo gak ada dia mungkin kami bakal ketinggalan kapal. Thanks so much Pak!

Ohya, Pak Kusnandi itu yang bikin gue dan anak-anak yang survey ke Pulau Harapan bisa nyari paket buat PTE dengan harga yang cukup terjangkau. Baik banget bapaknya, dia juga sering sms gue sama Reka, nanya-nanyain kabar ngasih saran dan lain-lain. BAIK BANGET POKOKNYA!

Udah deh, akhirnya kami langsung balik ke sekolah begitu sampe di Muara Angke. Capek banget woy, tapi worth it banget juga senengnya terbayarkan gitu. Semoga next time PTEnya lebih baik dan seru yaaa guysss.



















25 Oktober 2014

Keanehan Gue? Kalo Lo Mau Tau

Hai lagi ^^ kalian sering gak sih ngerasa bahwa diri kalian beda dari orang lain? Maksudnya, kalian sering merasa diri kalian unik? Kadang merasa sifat kalian tuh gak bisa disamain sama orang lain. Mungkin bagi orang yang aneh kayak gue itu sering terjadi. Bukan maksud kepedean atau merasa unik gitu ya, tapi ke anehan gue itu... kadang gue sendiri bingung kenapa gue begini. Oke, jangan bilang itu keunikan deh, kedengerannya sok banget. Anggap aja sikap aneh.

Kayaknya harus dimulai dari hobi gue deh. Gue suka banget akting-akting gak jelas gitu. Kalo gue lagi baca novel atau dialog dari komik pasti suka gue praktekin, kadang sampe gue liatin sendiri gimana ekspresi gue saat lagi akting kayak gitu. Gue sering banget akting gini dari gue masih kecil! awalnya gue pikir itu harusnya normal yah karena namanya juga anak kecil imajinasinya masih tinggi, masih ada boneka yaa walaupun gak ada boneka guling pun jadi buat gue.

Pernah gue lagi akting gak jelas gitu di kamar dengan pintu kamar yang kebuka, gue mikirnya gak ada siapa-siapa dong jadi santai aja, terus gue kepikiran 'kayaknya tadi ayah ke deket kamar gue deh' akhirnya gue ngintip ke luar kamar JENG JENG JENG JENG! beneran ada! dia lagi solat dan gue berdialog dengan suara yang harusnya kedengeran sama dia. Itu terjadi beberapa kali. Gue langsung nutup pintu kamar dan mengumpat kesal! Itu malu-maluin banget rasanya.

Pokoknya dimana pun gue, kayaknya gue suka tiba-tiba berekspresi tentang suatu perasaan gitu deh, seneng kek kaget kek, atau sedih. Ini gue kanapa ya ampun:( semoga gak ada hubungannya sama kejiwaan ya.

Keanehan selanjutnya adalah gue sering banget kentut. Sering banget! Di depan temen gue lagi, dan gue selalu bilang kalo gue abis kentut atau pun mau kentut. Wkwk. Semenjak kapan ya gue jadi suka kentut gini? Gue lupa, awalnya gue kira gara-gara masuk angin gitu dan emang iya sih terus gue jadi suka keterusan kentut gitu dan sebodo amat gue kentut dimana aja. Untungnya gak bau sih kentutnya.

Gue beruntung banget punya temen yang bisa ngerti kalo gue abis kentut wkwk mereka ngeluh sih, tapi mereka terima-terima aja. Haha maafkan aku teman-teman.

Keanehan yang berikutnya...
Lebih baik lo gak usah gue kenal deh dari pada gue nyapa lo... wkwk masalahnya kalo gue udah kenal orang itu, gue bisa nyapa kayak orang sawan deh, sok girang gitu, entah efek dari mana gue seneng nyapa orang kalo bisa gue pengen nyapa dengan lebay tapi untung gue tau tempat. Kan, dari pernyataan gue aja lo pasti tau sifat gue gimana. Gue sendiri bingung dapet sifat dari mana gue begini?

Keanehan yang ini mungkin sering banget terjadi di orang-orang.
Sifat gue bakal berubah 180 derajad kalo gue lagi sama orang yang gak deket atau sama senior. Gue bakal lebih tertutup, dan bakal jaga sikap banget! Intinya gue keliatan munafik kalo sama mereka, kayak bukan diri gue gitu. Atau gue harus jadi diri gue apa adanya gitu? Gak bisa... gue punya sifat yang sedikit takut untuk dijauhin kalo aja gue salah-salah perilakunya.

Segitu aja deh keanehan yang gue share, gue bingung apaan lagi karena pasti banyak dan gue gak nyadar. Keanehan gue tercatat sebagai CATATAN KALO LO MAU TEMENAN SAMA GUE, bak bak bak.




12 Oktober 2014

Isi Galery

Hai yay! Bagi kalian yang masih pelajar dari yang mager sampe yang rajin gue yakin 99,9% bahwa isi galery di hp kalian full of soal-soal dan catetan-catetan pelajaran! Benerkan bener?! Ya kita tahulah sekarang zaman makin canggih, kehidupan semakin modern yang membuat kita juga semakin malas dan salah satu akibatnya yaa apa yang ada di galery kalian itu. Gue salah satunya :)

Foto yang ada di hp gue:










Itu baru sebagiannya! Masih banyak lagi yang tersedia di laptop dan hp gue:)

Yey



Yay! Gue udah punya wattpad dan sekaranng gue udah bikin cerita juga disitu, judulnya UNPREDICTABLE :)) salah satu pemerannya yang tertulis di foto itu! Yang nulis namanya Talita,

20 April 2014

he to the lo

Hellooo :) aku mau cerita-cerita ajaa yaa kegiatan apa aja yang aku lakuin di SMA. Yang pertama ngebedain sekolahku yang sekarang dari yang lain itu, menurutku, karena ada suatu organisasi yang namanya subsi atau subseksi. Subsi ini sejenis organisasi di bawah osis. Ada macam-macam subsi kayak kesenian, olahraga, media siswa, kopsis, sp, pmr, dll. Aku pilih subsi kesenian atau biasanya lebih sering dipanggil ART, aku pilih subsi itu berdasarkan kesukaan. Tau gak? Aku merasa subsi di sekolahku kayak jenis jenis faksi di film divergent, haha, pada subsi tertentu kita bisa aja jadi non subsi atau kita bisa milih sendri untuk non subsi tapi itu bikin kita gak ada nilai di organisasi. Sejauh ini banyak kegiatan ART yang udah di jalanin. Selain subsi ART aku juga ikut subsi Pramuka, itu karena aku belum pernah ngerasain gimana pramukan itu. Oiya, aku juga ikut eskul saman :) pokoknya kegiatan di sana seru-seru kecuali yang berhubungan sama pelajaran. Capek nilainya jelek mulu :( mau usah tetep aja jelek, kadang udah pasrah duluan sebelum belajar. Oiya, akhir-akhir ini aku lagi sibuk untuk Drama Musikal kelas, aku seneng banget dan have fun dalam ngerjain class project yang ini:) yaah walaupun gak semua temenku mendukung kegiatan ini karena mungkin menurut mereka ini buang-buang waktu? Susah sih emang karena kesukaan dan passion orang beda-beda. Di drama musikal aku jadi narator, kadang aku pengen banget bisa jadi peran utama di dalam suatu drama, karena aku penasaran bagaimana rasanya diperhatikan dan diperhitungkan, selain itu aku juga suka akting, rasanya bebas, bisa sedih, marah, bahagia, semua rasa jadi satu. Aku pengen banget suatu waktu bisa jadi peran utama :) gak ada yang gak mungkin kan?

14 Maret 2014

Api Unggun

Aku dan orang yang di sebelahku, Raja, memandangi langit mendung yang tak kunjung turun hujan, angin yang berhembus juga tidak begitu kencang, kami harap hujan tidak jadi datang saat ini karena kami sedang menyalakan api unggun. Masih siang memang saat ini, tapi tak akan ada malam yang bisa kami lewatkan bersama lagi dalam waktu yang lama, dan kebiasaan kami saat malam adalah menyalakan api unggun.

“Jadi, jam berapa Kamu berangkat?” tanyaku padanya. Pandangannya mengarah pada api unggun, enatah apa yang ia pikirkan.


“Bisakah kita tetap berhubungan dalam jarak sejauh itu?” itu bukan jawaban yang kuharapkan tapi dari pertanyaan itu aku tahu dia tak ingin cepat-cepat pergi dari sini.


“Tentu saja, banyak media sosial yang bisa kita gunakan, kan?” aku sedikit tak yakin dengan ini, sebenarnya. “Bukankah Kamu senang ke sana? Saat ini sedang musim salju kan? Kalau aku jadi Kamu, aku akan sangat senang, main salju, saling lempar bola salju, aku ingin sekali ke sana, ke Jerman.”


“Ra, aku pikir, lebih baik aku di sini, aku lebih nyaman tinggal di Bandung. Aku bisa dekat terus dengamu, aku tidak perlu adaptasi lagi, aku tidak perlu melancarkan bahasa Jermanku, aku juga tak peduli dengan salju.” Dia menatapku dan aku bingung ingin bicara apa padanya, aku juga ingin kamu di sini Raja, aku tak ingin kamu pergi.


“Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Mereka…” Aku mengalihkan wajahku darinya.


“Mereka bisa ke sana tanpa aku, lagi pula di Bandung masih ada sepupuku.” Ia senyum padaku, selalu saja, aku tak bisa menahan bibirku untuk ikut tersenyum saat ia tersenyum. Mengapa kamu sangat mudah tersenyum Raja, padahal banyak sekali masalah di belakangmu.


Aku tidak bisa membiarkan dia tetap di Bandung, lebih baik dia ikut bersama orang tuanya ke Jerman, karena aku juga akan pindah ke Nusa Tenggara Barat, ayahku ingin pulang dan bekerja di kampung halamannya. “Ja, Kamu harus pergi, ikut orang tuamu ke Jerman. Kamu akan mendapatkan banyak pengalaman di sana dan Kamu bisa hidup lebih baik di sana, dengan orang tuamu.” Kataku akhirnya, sangat sakit mengucapkannya.


“Kenapa? Kamu berbicara seperti itu padaku, kenapa? Kamu ingin aku pergi?” Tanyanya, wajahnya menampakan kemarahan. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. “Baiklah, kalau itu maumu, aku pergi.” Ia pergi setelah itu, dia tak mengucapkan apa-apa lagi, ia pergi tanpa mengucapkan ‘selamat tinggal’ atau  ‘sampai berjumpa lagi’.


Saat ini aku hanya dapat melihat punggungnya yang menjauh, ia tak menengokan kepalanya sedikit pun ke arahku. Dada kiriku terasa nyeri, air mataku berhasil keluar, bahkan aku tak dapat menahan isakanku. Maafkan aku Raja, bahkan aku sama sekali belum pernah mengatakan ‘aku cinta kamu’. Aku minta maaf.


 LIMA TAHUN KEMUDIAN…


Selama inikah aku tidak bertemu dengannya? Lima tahun tanpa bertemu dengannya rasanya hati ini begitu sepi. Ia juga tidak menghubungiku sama sekali. Saat ini aku ada di Bandung, aku kembali ke sini karena aku beranggapan ia sudah kembali. Sebenarnya, aku kembali ke sini karena ibuku harus menemani nenek yang sedang sakit.


Aku sedang berada di tempat terakhir aku bertemu dengannya, suasananya masih sejuk. Pemandangan kebun teh yang selalu kusuka. Karena mengingat kenanganku dengannya tentang api unggun, aku pun mencari kayu, meminta minyak tanah dan korek api, juga jagung untuk aku bakar. Aku suka pada semua yang kulakukan bersamanya selama ini.


Pemandangan indah ini, mungkin akan jarang kunikmati, jadi aku mengambil kameraku dan memotretnya dengan angel yang menurutku bagus, aku juga memotret sudut-sudut tempat dimana ada suatu kenangan tentang Raja.


Aku ingin memotret jalan yang kulalui menuju tempat ini, sehingga aku berbalik ke arah pulang, namun tanpa kuduga, mata kameraku menangkap sesuatu yang bisa membuatku tersenyum saat itu juga. Raja, tiba-tiba saja dia ada, aku pun menurunkan kameraku dan berhadapan langsung dengannya.


Tak bisa menahan senyum ini dan jantung ini yang seperti sedang meloncat kegirangan. “Hai.” Itu adalah kata pertama yang kuucapkan. Aku merasa benar-benar bisu.


“Jadi itu hobi barumu? Fotografi?” katanya, dia tidak tersenyum, rawut wajahnya datar. Tidak bisakah dia memberiku senyum?


“Bagaimana saljunya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya, aku tak suka caranya bertanya.


“Apa tujuanmu kemari?” tanyanya, suaranya terdengar keras.


“Apa orang tuamu baik?” tanyaku lagi, suaraku terdengar serak, dadaku juga mulai merasakan ngilu.


“Sudah puas?” tanyanya, aku tak mengerti apa yang ia bicarakan.


Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang selalu kusimpan karena tidak ada dirinya, aku pun membiarkan air mataku mengalir. “Aku cinta Kamu, Raja.” Kataku akhirnya. Aku merasa sangat lega, tapi ternyata air mataku keluar lebih banyak dari yang kubayangkan.


Aku tidak pernah mengira ia akan berjalan ke arahku seperti ini, pelan namun yakin. Tanpa berhenti, ia langsung memelukku. Hangat. Aku dapat mendengar desahan nafasnya, aku juga dapat merasakan detak jantungnya. Aku tersenyum dalam diam, aku senang ia kembali. Terima kasih Raja.


“Jangan pernah pergi lagi dari sini, karena aku tidak akan pergi jauh lagi darimu.” Suaranya lembut. Aku hanya mengangguk mengiyakan. 

25 Juli 2013

Ayahku Seorang Pembersih Jalan

Cahaya remang-remang dari sebuah lampu minyak yang tergantung di rumahku mulai terlihat oleh mataku yang baru saja terbuka, terdengar suara ayam berkokok yang menandakan hari sudah fajar. Seketika aku bangun dari tempat tidurku yang selalu membuat badanku pegal-pegal sehabis tidur, bagaimana tidak tempat tidurku sangat keras bahkan tempat tidurku tidak bisa dibilang sebagai tempat tidur yang layak. Bau harum kayu bakar tercium oleh hidungku yang berarti ibu sedang memasak sarapan untuk keluargaku. Aku menghampiri ibu yang berada di dapur, dapur yang kotor dan menjijikan untuk orang-orang yang memiliki dapur bersih, aku sendiri merasa iri dengan teman-teman sekolahku yang memiliki dapur indah dan perlengkapan masak yang komplit dengan gas sebagai bahan bakarnya. Walaupun berbeda tetap saja rumah adalah tempat terindah yang kumiliki karena aku memiliki segalanya di dalam yaitu, ayah, ibu, dan adik tersayangku yang masih menginjak kelas satu SD.
            “Ibu, ada yang bisa aku bantu?” Tanyaku pada ibu saat aku memasuki dapur. Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaanku dan itulah yang selalu ibu lakukan setiap aku ingin membantunya.
            “Tidak perlu, Nak, lebih baik kamu sholat subuh dulu kemudian mandi. Ibu tidak ingin Kamu terlambat.” Ibu masih sibuk dengan masakkannya. Aku mengikuti nasihat ibu untuk sholat kemudian mandi.
Sebelum aku masuk ke kamar mandi, aku melihat bapak, bapak menggunakan pakaian yang biasa ia pakai yaitu, pakaian yang berdominan warna oranye. Bapakku adalah seorang pembersih jalan, bisa kubilang pembersih jalan yang sangaaat baik. Tahu kenapa? Setiap hari ia berangkat saat fajar menyingsing dan kembali saat senja datang, ia hanya membawa sapu lidi berukuran besar yang biasa ia pakai untuk membersihkan jalanan, menurutku pekerjaan bapak sangat mulia karena tanpa bapak mungkin jalanan tidak akan bersih. Namun, walaupun begitu aku sering merasa malu dengan teman-temanku, mereka selalu mengejekku dan mengataiku seorang anak pembersih jalan.
“Bapak, sudah mau berangkat ya?” Tanyaku saat berpapasan dengan bapak.
“Iya, Kinar, bapak harus berangkat sekarang.” Jawab bapak sambil tersenyum padaku, senyum yang selalu membuatku tenang.
“Bapak gak mau sarapan dulu?” Tanyaku lagi sambil melirik ke arah dapur.
“Tadi, bapak sudah sarapan duluan menggunakan lauk kemarin sore.” Kata bapak sambil mengusap-usap perutnya.
Bapak bilang sudah makan lauk kemarin sore, tapi lauk kemarin sore hanya tahu, dan itu tinggal tersisa setengahnya. Aku tahu, di balik wajahnya yang terlihat senang itu ia menahan lapar, aku tahu itu.
“Bapak berangkat dulu ya, Nak.” Kata bapak akhirnya. Bapak pun pergi setelah aku berpamitan dengannya.
Selesai mandi, aku membereskan buku-buku yang harus kubawa ke sekolah. Aku sudah menyiapkan semua bukunya dan sekarang aku harus mencari kantung plastik untuk menaruh buku-buku itu. Aku tidak memiliki tas, beberapa hari yang lalu tasku jebol karena sudah terlalu tua, sebenarnya bapak ingin membelikan yang baru untukku tapi aku menolaknya karena aku tahu bapak lebih membutuhkan uang itu walaupun aku merasa malu dengan teman-temanku.
Semua sudah siap, sekarang saatnya aku sarapan bersama ibu dan adikku. Hanya nasi dan tempe yang bisa aku makan sekarang, ibu belum membeli lauk untuk hari ini. Selesai saarapan, aku dan adikku keluar dari rumah kecilku dan menggunakan sepatu kami yang sudah berubah warna menjadi lebih kusam. Kupakai sepatuku, namun aku merasakan sesuatu yang janggal ketika berjalan, saat aku melihat sepatuku mulut buaya sedang menganga dengan lebar dengan lidah yang panjang, sepatuku menganga dan terlihat jari-jariku yang dilapisi kaus kaki berwarna putih.
“Ada apa, Kinar?” Tanya ibu padaku. Pasti ibu melihat sesuatu yang aneh pada sepatuku, sejujurnya aku tidak ingin ibu melihatnya. “Sepatumu rusak, sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki. Nanti, kita minta bapak belikan sepatu baru untukmu ya.” Kata ibu. Kalimat ibu yang terkahir membuatku langsung menggeleng.
“Gak perlu, Bu, gak apa-apa kok nanti aku sol aja.” Kataku akhirnya, aku dan adikku pun pamit pada ibu.
Sampai di sekolah, benar saja teman-temanku melihat sepatuku dengan tatapan yang merendahkan. Malu bahkan sangat malu. Teman-teman mulai mengejekku dan mengataiku. Aku tidak kuat, aku merasa malu, dan dada bagian kiriku terasa ngilu untuk sesaat kemudian air mataku keluar begitu saja, aku mencoba menahannya tapi sangat sulit, sulit sekali. Akhirnya aku langsung berlari menuju kelasku lalu menelungkupkan kepalaku di atas meja, tangisku menjadi-jadi sampai guru yang mengajar kelasku datang aku baru bisa menghentikan tangisku.
“Anak-anak, ibu ingin memberikan pengumuman pada kalian. Harap diam semuanya!” Ibu guru mengetuk-ngetuk papan tulis menggunakan penghapus khusus papan tulis. “Dalam memperingati bulan bahasa, sekolah kita mengadakan lomba yaitu, untuk kelas satu sampai kelas tiga SD adalah membawakan cerita lucu dan untuk kelas empat sampai enam SD, terutama kalian kelas lima adalah membacakan puisi. Puisi yang kalian bacakan bertema tentang lingkungan, kalian bisa mengambil dari internet ataupun membuatnya sendiri.” Selesai membacakan pengumuman, ibu guru langsung pergi karena tepat saat ia selesai berbicara bel tanda pulang berbunyi.
Apa yang harus aku bacakan saat bulan bahasa nanti? Aku tidak mungkin pergi ke warnet, uang jajan saja tidak punya. Tinggal tersisa waktu sembilan hari  lagi dan aku belum menyiapkan apapun. Tentang lingkungan? Aha! Bagaimana jika aku bertanya pada bapak sepulang sekolah nanti?
Pulang sekolah aku pun pergi ke tempat bapak bekerja, tentu saja di pinggir jalan. Saat aku sampai, aku tidak langsung menemui bapak tapi aku melihatnya dari balik pohon, dari balik pohon aku dapat melihat bagaimana bapak bekerja, ia bekerja dengan wajah yang selalu ceria walaupun keringat bercucuran di sekitar wajahnya. Bapak sedang menyapu jalanan yang dipenuhi dengan daun-daun kering yang bercampur dengan sampah plastik. Lama aku memperhatikan bapak, akhirnya aku menghampirinya.
“Bapak!” Teriakku saat aku sampai di hadapannya.
“Eh, Kamu, Kinar, tumben Kamu ke sini.” Kata bapak, ia menghentikan pekerjaannya menyapu jalan.
“Memangnya aku gak boleh ke sini?” Tanyaku bercanda.
“Boleh-boleh, ada apa?” Tanya Bapak.
“Aku ingin meminta pendapat Bapak. Aku ada tugas bahasa Indonesia membacakan puisi di bulan bahasa temanya mengenai lingkungan kata guruku, aku bisa mencarinya di internet tapi aku tidak mau, aku ingin mencoba membuat sendiri, jadi gimana Pak? Bantuin aku yaaa…” Kataku membujuk.
“Tentu saja.” Kata bapak. Tiba-tiba sapu lidi yang dipakai bapak jatuh tepat di atas sepatu bututku dan membuat kakiku terasa sakit sehingga membuatku berteriak. Tentu saja hal itu terlihat oleh bapak, bapak pun langsung sigap mengambil sapu lidinya untuk memindahkan gagangnya dari kakiku. “Sepatu Kamu rusak?” Tanya bapak tiba-tiba.
Oops… aku baru ingat sepatuku kan rusak.”Eh, iya, pak.” Jawabku sedikti terbata.
“Yasudah, nanti kita beli sepatu baru ya.” Kata bapak, tentu saja aku langsung menggeleng. Aku tidak ingin uang bapak dipakai untuk membeli sepatu baru untukku. “Loh, kenapa?” Tanya bapak.
“Gak apa-apa, kok, Pak.” Aku pun langsung mengubah topik pembicaraan. “Sekarang, Bapak cerita aja tentang lingkungan dan segala yang berhubungan dengan lingkungan.”
“Baiklah.” Bapak pun menceritakan pekerjaannya sebagai pembersih jalan, bagaimana ia membersihkan jalan, juga membedakan sampah organik dan non organik. “Banyak masyarakat yang sadar akibat dari membuang sampah sembarangan, tapi mereka malas. Itulah yang menyebabkan di kota-kota besar seperti Jakarta sering dilanda banjir, nah, untuk itulah makanya bapak selalu mengajarkan Kamu bagaimana memperlakukan sampah.” Kata bapak panjang lebar, dan aku menyimaknya dengan baik.
“Apa pak gubernur tidak bertindak, Pak?” Tanyaku.
“Siapa bilang? Pak gubernur kita, bapak Fauzi Bowo yang terkenal dengan kumisnya itu, sudah bertindak.” Kata Bapak sambil menatap sekitar.
“Contohnya apa?” Tanyaku lagi.
“Pemerintah sudah menyediakan sarana dan prasarana untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan sampah ibukota, tapi warga Jakarta lebih mementingkan malas mereka dari pada kesehatan mereka. Kamu tahu slogan ‘bunaglah sampah pada tempatnya?” Aku mengangguk. “Bapak kurang setuju!” Kata bapak, aku pun heran. “Bapak lebih setuju membuang sampah pada tempat sampah.” Aku dan bapak tertawa bersama.
“Bapak bisa aja.” Kataku. “Oiya, Pak, bagaimana dengan budaya Jakarta?” Tanyaku berbeda topik.
“Sebenarnya kebudayaan betawi itu banyak, apalagi Indonesia tapi sayang, anak zaman sekarang kurang memperhatikan kebudayaannya sendiri mereka lebih suka meniru budaya asing yang terkadang malah membuat mereka lupa akan waktu mereka. Kapan-kapan, bapak akan ajak Kamu untuk menonton pertunjukan lenong dan makan kerak telor.” Kata bapak.
“Yang benar, Pak?” Tanyaku tidak percaya, aku senang sekali jika bisa melihat pertunjukan lenong dan makan kerak telor. Bapak mengangguk menjawab pertanyaanku.
Aku dan bapak akhirnya pulang bersama karena matahari sudah mulai turun ke arah barat.
Setiap hari aku jadi lebih sering pulang bersama bapak karena ingin mendengar penjelasan bapak mengenai lingkungan dan budaya Jakarta, lama-lama aku menjadi tertarik dengan lingkungan di sekitarku. Berdasarkan penjelasan bapak, aku tahu apa yang harus aku tuangkan dalam puisiku, tapi entah kenapa belum pas rasanya.
Tersisa tiga hari lagi bagiku untuk menyiapkan diri, aku juga sudah tahu apa yang harus aku bacakan. Hari ini, aku akan ke tempat bapak lagi untuk menujukkan puisi yang telah aku buat. Aku berjalan dengan tenang dan dengan perasaan gembira sampai-sampai tidak sengaja sepatu kiriku terbuka dan tertinggal di jalan, aku pun kembali untuk mengambilnya. Begitu aku berhasil mengambilnya, sebuah mobil berjalan dengan kencang menuju  ke arahku tiba-tiba terdengar juga suara bapak yang berteriak, tapi aku tidak tahu apa yang bapak bicarakan, badanku terasa kaku.
Aku terlempar keluar dari jalanan beraspal begitu saja, seperti ada yang mendorongku. Saat kesadaranku mulai pulih, aku melihat sesosok lelaki yang sedang tertidur di jalan beraspal dengan darah yang mengalir. Aku hampiri laki-laki itu, karena bagaimana pun juga dia telah menolongku bahkan menyelamatkanku dari maut.
Saat aku berada di sampingnya… badanku terasa begitu kaku, rasanya hampir sama seperti saat aku hampir tertabrak, bahkan aku tidak bisa merasakan apapun saat ini, aliran darahku serasa berhenti, dan air mataku keluar dengan sangat deras. Aku merasa tidak yakin dengan apa yang aku lihat, apakah… apakah… benar… aku menangis dengan terisak. Aku langsung memeluk pria itu, tidak peduli darah membuat bajuku kotor karena bagaimanapun juga ia adalah ayahku.
Tiga hari kemudian
Setelah kejadian itu, aku merasa sangat terpuruk tapi aku tahu diriku tidak akan maju jika selalu terpuruk apalagi dengan kenangan masa lalu, itu yang dikatakan bapak padaku sehari sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Hari ini adalah saat dimana aku harus membacakan puisi. “Kinara Adiyawati.” Seorang mc memanggil namaku, dan aku pun harus maju. Aku maju ke atas panggung kemudian memberi salam dan barulah aku membacakan puisiku.
Ayam berkokok dan matahari baru muncul dari tempat peristirahatannya
Sebuah senyum hangat menyapaku
Senyum yang membuat perasaanku selalu tenang
Ayah, dia ayahku
Ayahku yang bekerja sebagai seorang pembersih jalan
Pekerjaan yang sering dianggap pekerjaan rendahan oleh orang-orang
Bahkan terkadang aku malu untuk mengakuinya
Bahwa ayahku adalah seorang pembersih jalan
Ejekkan dan celaan sudah sering aku dengar
Ya, hatiku memang sakit
Sakit sekali
Tapi, ia telah mengajarkanku bagaimana aku harus memperlakukan sebuah sampah
Sampah yang sering orang abaikan
Membedakan sampah, memperlakukan sampah, dan memanfaatkan sampah
Ia mengajarkanku semua itu hingga aku mengerti
Hingga aku sadar
Pekerjaan ayahku sangat mulia
Karena tanpanya jalanan akan terlihat kotor, bahkan sangat kotor
Aku bangga pada ayahku, ayahku sang pembersih jalan


19 tahun kemudian

Bagaikan mimpi, sekarang aku menempati rumah mewah. Sekarang aku memiliki dapur dengan peralatan yang lengkap dan kompor berbahan bakar gas. Semua yang aku dapatkan ini berasal dari didikanmu, ayah. Karena ajaranmu padaku mengenai lingkungan aku dapat menjadi seperti ini, aku dapat maju dengan berbekal ilmu darimu. Menteri Lingkungan Hidup, sekarang aku mendapat jabatan itu. Sepatu bututku, tas plastikku, sapu lidimu, dan pakaian oranyemu kini tersimpan di museumku, semua itu adalah pengingatku akan dirimu. Terimakasih atas didikanmu ayah.




Ini cerpen waktu ikut lomba tingkat JakPus