Dunia nyata dan dunia maya itu berbeda, sama kayak ayam dan bebek, mereka juga beda. Walaupun mereka beda, mereka tetap unggas dan kalaupun dunia nyata dan dunia maya berbeda, tetap aja IT'S TEMMY
Bukan Saya yang Sebenar-benarnya
Setiap orang punya sisi gelap, sisi terang, sisi kanan, sisi kiri
Tapi mereka nggak punya satu sisi : SISI-pan
Karena SISI-pan hanyalah tambahan
12 Oktober 2014
Yey
Yay! Gue udah punya wattpad dan sekaranng gue udah bikin cerita juga disitu, judulnya UNPREDICTABLE :)) salah satu pemerannya yang tertulis di foto itu! Yang nulis namanya Talita,
20 April 2014
he to the lo
Hellooo :) aku mau cerita-cerita ajaa yaa kegiatan apa aja yang aku lakuin di SMA. Yang pertama ngebedain sekolahku yang sekarang dari yang lain itu, menurutku, karena ada suatu organisasi yang namanya subsi atau subseksi. Subsi ini sejenis organisasi di bawah osis. Ada macam-macam subsi kayak kesenian, olahraga, media siswa, kopsis, sp, pmr, dll. Aku pilih subsi kesenian atau biasanya lebih sering dipanggil ART, aku pilih subsi itu berdasarkan kesukaan. Tau gak? Aku merasa subsi di sekolahku kayak jenis jenis faksi di film divergent, haha, pada subsi tertentu kita bisa aja jadi non subsi atau kita bisa milih sendri untuk non subsi tapi itu bikin kita gak ada nilai di organisasi. Sejauh ini banyak kegiatan ART yang udah di jalanin. Selain subsi ART aku juga ikut subsi Pramuka, itu karena aku belum pernah ngerasain gimana pramukan itu. Oiya, aku juga ikut eskul saman :) pokoknya kegiatan di sana seru-seru kecuali yang berhubungan sama pelajaran. Capek nilainya jelek mulu :( mau usah tetep aja jelek, kadang udah pasrah duluan sebelum belajar. Oiya, akhir-akhir ini aku lagi sibuk untuk Drama Musikal kelas, aku seneng banget dan have fun dalam ngerjain class project yang ini:) yaah walaupun gak semua temenku mendukung kegiatan ini karena mungkin menurut mereka ini buang-buang waktu? Susah sih emang karena kesukaan dan passion orang beda-beda. Di drama musikal aku jadi narator, kadang aku pengen banget bisa jadi peran utama di dalam suatu drama, karena aku penasaran bagaimana rasanya diperhatikan dan diperhitungkan, selain itu aku juga suka akting, rasanya bebas, bisa sedih, marah, bahagia, semua rasa jadi satu. Aku pengen banget suatu waktu bisa jadi peran utama :) gak ada yang gak mungkin kan?
14 Maret 2014
Api Unggun
Aku dan orang yang di sebelahku, Raja, memandangi langit
mendung yang tak kunjung turun hujan, angin yang berhembus juga tidak begitu
kencang, kami harap hujan tidak jadi datang saat ini karena kami sedang
menyalakan api unggun. Masih siang memang saat ini, tapi tak akan ada malam
yang bisa kami lewatkan bersama lagi dalam waktu yang lama, dan kebiasaan kami
saat malam adalah menyalakan api unggun.
“Jadi, jam berapa Kamu berangkat?” tanyaku padanya. Pandangannya mengarah pada api unggun, enatah apa yang ia pikirkan.
“Bisakah kita tetap berhubungan dalam jarak sejauh itu?” itu bukan jawaban yang kuharapkan tapi dari pertanyaan itu aku tahu dia tak ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“Tentu saja, banyak media sosial yang bisa kita gunakan, kan?” aku sedikit tak yakin dengan ini, sebenarnya. “Bukankah Kamu senang ke sana? Saat ini sedang musim salju kan? Kalau aku jadi Kamu, aku akan sangat senang, main salju, saling lempar bola salju, aku ingin sekali ke sana, ke Jerman.”
“Ra, aku pikir, lebih baik aku di sini, aku lebih nyaman tinggal di Bandung. Aku bisa dekat terus dengamu, aku tidak perlu adaptasi lagi, aku tidak perlu melancarkan bahasa Jermanku, aku juga tak peduli dengan salju.” Dia menatapku dan aku bingung ingin bicara apa padanya, aku juga ingin kamu di sini Raja, aku tak ingin kamu pergi.
“Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Mereka…” Aku mengalihkan wajahku darinya.
“Mereka bisa ke sana tanpa aku, lagi pula di Bandung masih ada sepupuku.” Ia senyum padaku, selalu saja, aku tak bisa menahan bibirku untuk ikut tersenyum saat ia tersenyum. Mengapa kamu sangat mudah tersenyum Raja, padahal banyak sekali masalah di belakangmu.
Aku tidak bisa membiarkan dia tetap di Bandung, lebih baik dia ikut bersama orang tuanya ke Jerman, karena aku juga akan pindah ke Nusa Tenggara Barat, ayahku ingin pulang dan bekerja di kampung halamannya. “Ja, Kamu harus pergi, ikut orang tuamu ke Jerman. Kamu akan mendapatkan banyak pengalaman di sana dan Kamu bisa hidup lebih baik di sana, dengan orang tuamu.” Kataku akhirnya, sangat sakit mengucapkannya.
“Kenapa? Kamu berbicara seperti itu padaku, kenapa? Kamu ingin aku pergi?” Tanyanya, wajahnya menampakan kemarahan. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. “Baiklah, kalau itu maumu, aku pergi.” Ia pergi setelah itu, dia tak mengucapkan apa-apa lagi, ia pergi tanpa mengucapkan ‘selamat tinggal’ atau ‘sampai berjumpa lagi’.
Saat ini aku hanya dapat melihat punggungnya yang menjauh, ia tak menengokan kepalanya sedikit pun ke arahku. Dada kiriku terasa nyeri, air mataku berhasil keluar, bahkan aku tak dapat menahan isakanku. Maafkan aku Raja, bahkan aku sama sekali belum pernah mengatakan ‘aku cinta kamu’. Aku minta maaf.
LIMA TAHUN KEMUDIAN…
Selama inikah aku tidak bertemu dengannya? Lima tahun tanpa bertemu dengannya rasanya hati ini begitu sepi. Ia juga tidak menghubungiku sama sekali. Saat ini aku ada di Bandung, aku kembali ke sini karena aku beranggapan ia sudah kembali. Sebenarnya, aku kembali ke sini karena ibuku harus menemani nenek yang sedang sakit.
Aku sedang berada di tempat terakhir aku bertemu dengannya, suasananya masih sejuk. Pemandangan kebun teh yang selalu kusuka. Karena mengingat kenanganku dengannya tentang api unggun, aku pun mencari kayu, meminta minyak tanah dan korek api, juga jagung untuk aku bakar. Aku suka pada semua yang kulakukan bersamanya selama ini.
Pemandangan indah ini, mungkin akan jarang kunikmati, jadi aku mengambil kameraku dan memotretnya dengan angel yang menurutku bagus, aku juga memotret sudut-sudut tempat dimana ada suatu kenangan tentang Raja.
Aku ingin memotret jalan yang kulalui menuju tempat ini, sehingga aku berbalik ke arah pulang, namun tanpa kuduga, mata kameraku menangkap sesuatu yang bisa membuatku tersenyum saat itu juga. Raja, tiba-tiba saja dia ada, aku pun menurunkan kameraku dan berhadapan langsung dengannya.
Tak bisa menahan senyum ini dan jantung ini yang seperti sedang meloncat kegirangan. “Hai.” Itu adalah kata pertama yang kuucapkan. Aku merasa benar-benar bisu.
“Jadi itu hobi barumu? Fotografi?” katanya, dia tidak tersenyum, rawut wajahnya datar. Tidak bisakah dia memberiku senyum?
“Bagaimana saljunya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya, aku tak suka caranya bertanya.
“Apa tujuanmu kemari?” tanyanya, suaranya terdengar keras.
“Apa orang tuamu baik?” tanyaku lagi, suaraku terdengar serak, dadaku juga mulai merasakan ngilu.
“Sudah puas?” tanyanya, aku tak mengerti apa yang ia bicarakan.
Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang selalu kusimpan karena tidak ada dirinya, aku pun membiarkan air mataku mengalir. “Aku cinta Kamu, Raja.” Kataku akhirnya. Aku merasa sangat lega, tapi ternyata air mataku keluar lebih banyak dari yang kubayangkan.
Aku tidak pernah mengira ia akan berjalan ke arahku seperti ini, pelan namun yakin. Tanpa berhenti, ia langsung memelukku. Hangat. Aku dapat mendengar desahan nafasnya, aku juga dapat merasakan detak jantungnya. Aku tersenyum dalam diam, aku senang ia kembali. Terima kasih Raja.
“Jangan pernah pergi lagi dari sini, karena aku tidak akan pergi jauh lagi darimu.” Suaranya lembut. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Jadi, jam berapa Kamu berangkat?” tanyaku padanya. Pandangannya mengarah pada api unggun, enatah apa yang ia pikirkan.
“Bisakah kita tetap berhubungan dalam jarak sejauh itu?” itu bukan jawaban yang kuharapkan tapi dari pertanyaan itu aku tahu dia tak ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“Tentu saja, banyak media sosial yang bisa kita gunakan, kan?” aku sedikit tak yakin dengan ini, sebenarnya. “Bukankah Kamu senang ke sana? Saat ini sedang musim salju kan? Kalau aku jadi Kamu, aku akan sangat senang, main salju, saling lempar bola salju, aku ingin sekali ke sana, ke Jerman.”
“Ra, aku pikir, lebih baik aku di sini, aku lebih nyaman tinggal di Bandung. Aku bisa dekat terus dengamu, aku tidak perlu adaptasi lagi, aku tidak perlu melancarkan bahasa Jermanku, aku juga tak peduli dengan salju.” Dia menatapku dan aku bingung ingin bicara apa padanya, aku juga ingin kamu di sini Raja, aku tak ingin kamu pergi.
“Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Mereka…” Aku mengalihkan wajahku darinya.
“Mereka bisa ke sana tanpa aku, lagi pula di Bandung masih ada sepupuku.” Ia senyum padaku, selalu saja, aku tak bisa menahan bibirku untuk ikut tersenyum saat ia tersenyum. Mengapa kamu sangat mudah tersenyum Raja, padahal banyak sekali masalah di belakangmu.
Aku tidak bisa membiarkan dia tetap di Bandung, lebih baik dia ikut bersama orang tuanya ke Jerman, karena aku juga akan pindah ke Nusa Tenggara Barat, ayahku ingin pulang dan bekerja di kampung halamannya. “Ja, Kamu harus pergi, ikut orang tuamu ke Jerman. Kamu akan mendapatkan banyak pengalaman di sana dan Kamu bisa hidup lebih baik di sana, dengan orang tuamu.” Kataku akhirnya, sangat sakit mengucapkannya.
“Kenapa? Kamu berbicara seperti itu padaku, kenapa? Kamu ingin aku pergi?” Tanyanya, wajahnya menampakan kemarahan. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. “Baiklah, kalau itu maumu, aku pergi.” Ia pergi setelah itu, dia tak mengucapkan apa-apa lagi, ia pergi tanpa mengucapkan ‘selamat tinggal’ atau ‘sampai berjumpa lagi’.
Saat ini aku hanya dapat melihat punggungnya yang menjauh, ia tak menengokan kepalanya sedikit pun ke arahku. Dada kiriku terasa nyeri, air mataku berhasil keluar, bahkan aku tak dapat menahan isakanku. Maafkan aku Raja, bahkan aku sama sekali belum pernah mengatakan ‘aku cinta kamu’. Aku minta maaf.
Selama inikah aku tidak bertemu dengannya? Lima tahun tanpa bertemu dengannya rasanya hati ini begitu sepi. Ia juga tidak menghubungiku sama sekali. Saat ini aku ada di Bandung, aku kembali ke sini karena aku beranggapan ia sudah kembali. Sebenarnya, aku kembali ke sini karena ibuku harus menemani nenek yang sedang sakit.
Aku sedang berada di tempat terakhir aku bertemu dengannya, suasananya masih sejuk. Pemandangan kebun teh yang selalu kusuka. Karena mengingat kenanganku dengannya tentang api unggun, aku pun mencari kayu, meminta minyak tanah dan korek api, juga jagung untuk aku bakar. Aku suka pada semua yang kulakukan bersamanya selama ini.
Pemandangan indah ini, mungkin akan jarang kunikmati, jadi aku mengambil kameraku dan memotretnya dengan angel yang menurutku bagus, aku juga memotret sudut-sudut tempat dimana ada suatu kenangan tentang Raja.
Aku ingin memotret jalan yang kulalui menuju tempat ini, sehingga aku berbalik ke arah pulang, namun tanpa kuduga, mata kameraku menangkap sesuatu yang bisa membuatku tersenyum saat itu juga. Raja, tiba-tiba saja dia ada, aku pun menurunkan kameraku dan berhadapan langsung dengannya.
Tak bisa menahan senyum ini dan jantung ini yang seperti sedang meloncat kegirangan. “Hai.” Itu adalah kata pertama yang kuucapkan. Aku merasa benar-benar bisu.
“Jadi itu hobi barumu? Fotografi?” katanya, dia tidak tersenyum, rawut wajahnya datar. Tidak bisakah dia memberiku senyum?
“Bagaimana saljunya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya, aku tak suka caranya bertanya.
“Apa tujuanmu kemari?” tanyanya, suaranya terdengar keras.
“Apa orang tuamu baik?” tanyaku lagi, suaraku terdengar serak, dadaku juga mulai merasakan ngilu.
“Sudah puas?” tanyanya, aku tak mengerti apa yang ia bicarakan.
Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang selalu kusimpan karena tidak ada dirinya, aku pun membiarkan air mataku mengalir. “Aku cinta Kamu, Raja.” Kataku akhirnya. Aku merasa sangat lega, tapi ternyata air mataku keluar lebih banyak dari yang kubayangkan.
Aku tidak pernah mengira ia akan berjalan ke arahku seperti ini, pelan namun yakin. Tanpa berhenti, ia langsung memelukku. Hangat. Aku dapat mendengar desahan nafasnya, aku juga dapat merasakan detak jantungnya. Aku tersenyum dalam diam, aku senang ia kembali. Terima kasih Raja.
“Jangan pernah pergi lagi dari sini, karena aku tidak akan pergi jauh lagi darimu.” Suaranya lembut. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
25 Juli 2013
Ayahku Seorang Pembersih Jalan
Cahaya
remang-remang dari sebuah lampu minyak yang tergantung di rumahku mulai
terlihat oleh mataku yang baru saja terbuka, terdengar suara ayam berkokok yang
menandakan hari sudah fajar. Seketika aku bangun dari tempat tidurku yang
selalu membuat badanku pegal-pegal sehabis tidur, bagaimana tidak tempat
tidurku sangat keras bahkan tempat tidurku tidak bisa dibilang sebagai tempat
tidur yang layak. Bau harum kayu bakar tercium oleh hidungku yang berarti ibu
sedang memasak sarapan untuk keluargaku. Aku menghampiri ibu yang berada di
dapur, dapur yang kotor dan menjijikan untuk orang-orang yang memiliki dapur
bersih, aku sendiri merasa iri dengan teman-teman sekolahku yang memiliki dapur
indah dan perlengkapan masak yang komplit dengan gas sebagai bahan bakarnya. Walaupun
berbeda tetap saja rumah adalah tempat terindah yang kumiliki karena aku
memiliki segalanya di dalam yaitu, ayah, ibu, dan adik tersayangku yang masih
menginjak kelas satu SD.
“Ibu, ada yang bisa aku bantu?”
Tanyaku pada ibu saat aku memasuki dapur. Ibu hanya tersenyum mendengar
pertanyaanku dan itulah yang selalu ibu lakukan setiap aku ingin membantunya.
“Tidak perlu, Nak, lebih baik kamu
sholat subuh dulu kemudian mandi. Ibu tidak ingin Kamu terlambat.” Ibu masih
sibuk dengan masakkannya. Aku mengikuti nasihat ibu untuk sholat kemudian
mandi.
Sebelum
aku masuk ke kamar mandi, aku melihat bapak, bapak menggunakan pakaian yang
biasa ia pakai yaitu, pakaian yang berdominan warna oranye. Bapakku adalah seorang
pembersih jalan, bisa kubilang pembersih jalan yang sangaaat baik. Tahu kenapa?
Setiap hari ia berangkat saat fajar menyingsing dan kembali saat senja datang,
ia hanya membawa sapu lidi berukuran besar yang biasa ia pakai untuk
membersihkan jalanan, menurutku pekerjaan bapak sangat mulia karena tanpa bapak
mungkin jalanan tidak akan bersih. Namun, walaupun begitu aku sering merasa
malu dengan teman-temanku, mereka selalu mengejekku dan mengataiku seorang anak
pembersih jalan.
“Bapak,
sudah mau berangkat ya?” Tanyaku saat berpapasan dengan bapak.
“Iya,
Kinar, bapak harus berangkat sekarang.” Jawab bapak sambil tersenyum padaku,
senyum yang selalu membuatku tenang.
“Bapak
gak mau sarapan dulu?” Tanyaku lagi sambil melirik ke arah dapur.
“Tadi,
bapak sudah sarapan duluan menggunakan lauk kemarin sore.” Kata bapak sambil
mengusap-usap perutnya.
Bapak
bilang sudah makan lauk kemarin sore, tapi lauk kemarin sore hanya tahu, dan
itu tinggal tersisa setengahnya. Aku tahu, di balik wajahnya yang terlihat
senang itu ia menahan lapar, aku tahu itu.
“Bapak
berangkat dulu ya, Nak.” Kata bapak akhirnya. Bapak pun pergi setelah aku
berpamitan dengannya.
Selesai
mandi, aku membereskan buku-buku yang harus kubawa ke sekolah. Aku sudah
menyiapkan semua bukunya dan sekarang aku harus mencari kantung plastik untuk
menaruh buku-buku itu. Aku tidak memiliki tas, beberapa hari yang lalu tasku
jebol karena sudah terlalu tua, sebenarnya bapak ingin membelikan yang baru
untukku tapi aku menolaknya karena aku tahu bapak lebih membutuhkan uang itu
walaupun aku merasa malu dengan teman-temanku.
Semua
sudah siap, sekarang saatnya aku sarapan bersama ibu dan adikku. Hanya nasi dan
tempe yang bisa aku makan sekarang, ibu belum membeli lauk untuk hari ini.
Selesai saarapan, aku dan adikku keluar dari rumah kecilku dan menggunakan
sepatu kami yang sudah berubah warna menjadi lebih kusam. Kupakai sepatuku,
namun aku merasakan sesuatu yang janggal ketika berjalan, saat aku melihat
sepatuku mulut buaya sedang menganga dengan lebar dengan lidah yang panjang,
sepatuku menganga dan terlihat jari-jariku yang dilapisi kaus kaki berwarna
putih.
“Ada
apa, Kinar?” Tanya ibu padaku. Pasti ibu melihat sesuatu yang aneh pada
sepatuku, sejujurnya aku tidak ingin ibu melihatnya. “Sepatumu rusak, sepertinya
sudah tidak bisa diperbaiki. Nanti, kita minta bapak belikan sepatu baru
untukmu ya.” Kata ibu. Kalimat ibu yang terkahir membuatku langsung menggeleng.
“Gak
perlu, Bu, gak apa-apa kok nanti aku sol aja.” Kataku akhirnya, aku dan adikku
pun pamit pada ibu.
Sampai
di sekolah, benar saja teman-temanku melihat sepatuku dengan tatapan yang
merendahkan. Malu bahkan sangat malu. Teman-teman mulai mengejekku dan
mengataiku. Aku tidak kuat, aku merasa malu, dan dada bagian kiriku terasa
ngilu untuk sesaat kemudian air mataku keluar begitu saja, aku mencoba
menahannya tapi sangat sulit, sulit sekali. Akhirnya aku langsung berlari
menuju kelasku lalu menelungkupkan kepalaku di atas meja, tangisku menjadi-jadi
sampai guru yang mengajar kelasku datang aku baru bisa menghentikan tangisku.
“Anak-anak,
ibu ingin memberikan pengumuman pada kalian. Harap diam semuanya!” Ibu guru
mengetuk-ngetuk papan tulis menggunakan penghapus khusus papan tulis. “Dalam
memperingati bulan bahasa, sekolah kita mengadakan lomba yaitu, untuk kelas
satu sampai kelas tiga SD adalah membawakan cerita lucu dan untuk kelas empat
sampai enam SD, terutama kalian kelas lima adalah membacakan puisi. Puisi yang
kalian bacakan bertema tentang lingkungan, kalian bisa mengambil dari internet
ataupun membuatnya sendiri.” Selesai membacakan pengumuman, ibu guru langsung
pergi karena tepat saat ia selesai berbicara bel tanda pulang berbunyi.
Apa
yang harus aku bacakan saat bulan bahasa nanti? Aku tidak mungkin pergi ke
warnet, uang jajan saja tidak punya. Tinggal tersisa waktu sembilan hari lagi dan aku belum menyiapkan apapun. Tentang
lingkungan? Aha! Bagaimana jika aku bertanya pada bapak sepulang sekolah nanti?
Pulang
sekolah aku pun pergi ke tempat bapak bekerja, tentu saja di pinggir jalan.
Saat aku sampai, aku tidak langsung menemui bapak tapi aku melihatnya dari
balik pohon, dari balik pohon aku dapat melihat bagaimana bapak bekerja, ia
bekerja dengan wajah yang selalu ceria walaupun keringat bercucuran di sekitar
wajahnya. Bapak sedang menyapu jalanan yang dipenuhi dengan daun-daun kering
yang bercampur dengan sampah plastik. Lama aku memperhatikan bapak, akhirnya
aku menghampirinya.
“Bapak!”
Teriakku saat aku sampai di hadapannya.
“Eh,
Kamu, Kinar, tumben Kamu ke sini.” Kata bapak, ia menghentikan pekerjaannya
menyapu jalan.
“Memangnya
aku gak boleh ke sini?” Tanyaku bercanda.
“Boleh-boleh,
ada apa?” Tanya Bapak.
“Aku
ingin meminta pendapat Bapak. Aku ada tugas bahasa Indonesia membacakan puisi
di bulan bahasa temanya mengenai lingkungan kata guruku, aku bisa mencarinya di
internet tapi aku tidak mau, aku ingin mencoba membuat sendiri, jadi gimana
Pak? Bantuin aku yaaa…” Kataku membujuk.
“Tentu
saja.” Kata bapak. Tiba-tiba sapu lidi yang dipakai bapak jatuh tepat di atas
sepatu bututku dan membuat kakiku terasa sakit sehingga membuatku berteriak.
Tentu saja hal itu terlihat oleh bapak, bapak pun langsung sigap mengambil sapu
lidinya untuk memindahkan gagangnya dari kakiku. “Sepatu Kamu rusak?” Tanya
bapak tiba-tiba.
Oops…
aku baru ingat sepatuku kan rusak.”Eh, iya, pak.” Jawabku sedikti terbata.
“Yasudah,
nanti kita beli sepatu baru ya.” Kata bapak, tentu saja aku langsung
menggeleng. Aku tidak ingin uang bapak dipakai untuk membeli sepatu baru
untukku. “Loh, kenapa?” Tanya bapak.
“Gak
apa-apa, kok, Pak.” Aku pun langsung mengubah topik pembicaraan. “Sekarang,
Bapak cerita aja tentang lingkungan dan segala yang berhubungan dengan
lingkungan.”
“Baiklah.”
Bapak pun menceritakan pekerjaannya sebagai pembersih jalan, bagaimana ia
membersihkan jalan, juga membedakan sampah organik dan non organik. “Banyak
masyarakat yang sadar akibat dari membuang sampah sembarangan, tapi mereka
malas. Itulah yang menyebabkan di kota-kota besar seperti Jakarta sering
dilanda banjir, nah, untuk itulah makanya bapak selalu mengajarkan Kamu bagaimana
memperlakukan sampah.” Kata bapak panjang lebar, dan aku menyimaknya dengan
baik.
“Apa
pak gubernur tidak bertindak, Pak?” Tanyaku.
“Siapa
bilang? Pak gubernur kita, bapak Fauzi Bowo yang terkenal dengan kumisnya itu,
sudah bertindak.” Kata Bapak sambil menatap sekitar.
“Contohnya
apa?” Tanyaku lagi.
“Pemerintah
sudah menyediakan sarana dan prasarana untuk segala sesuatu yang berhubungan
dengan sampah ibukota, tapi warga Jakarta lebih mementingkan malas mereka dari
pada kesehatan mereka. Kamu tahu slogan ‘bunaglah sampah pada tempatnya?” Aku
mengangguk. “Bapak kurang setuju!” Kata bapak, aku pun heran. “Bapak lebih
setuju membuang sampah pada tempat sampah.” Aku dan bapak tertawa bersama.
“Bapak
bisa aja.” Kataku. “Oiya, Pak, bagaimana dengan budaya Jakarta?” Tanyaku
berbeda topik.
“Sebenarnya
kebudayaan betawi itu banyak, apalagi Indonesia tapi sayang, anak zaman
sekarang kurang memperhatikan kebudayaannya sendiri mereka lebih suka meniru
budaya asing yang terkadang malah membuat mereka lupa akan waktu mereka. Kapan-kapan,
bapak akan ajak Kamu untuk menonton pertunjukan lenong dan makan kerak telor.”
Kata bapak.
“Yang
benar, Pak?” Tanyaku tidak percaya, aku senang sekali jika bisa melihat
pertunjukan lenong dan makan kerak telor. Bapak mengangguk menjawab
pertanyaanku.
Aku
dan bapak akhirnya pulang bersama karena matahari sudah mulai turun ke arah
barat.
Setiap
hari aku jadi lebih sering pulang bersama bapak karena ingin mendengar
penjelasan bapak mengenai lingkungan dan budaya Jakarta, lama-lama aku menjadi
tertarik dengan lingkungan di sekitarku. Berdasarkan penjelasan bapak, aku tahu
apa yang harus aku tuangkan dalam puisiku, tapi entah kenapa belum pas rasanya.
Tersisa
tiga hari lagi bagiku untuk menyiapkan diri, aku juga sudah tahu apa yang harus
aku bacakan. Hari ini, aku akan ke tempat bapak lagi untuk menujukkan puisi
yang telah aku buat. Aku berjalan dengan tenang dan dengan perasaan gembira
sampai-sampai tidak sengaja sepatu kiriku terbuka dan tertinggal di jalan, aku
pun kembali untuk mengambilnya. Begitu aku berhasil mengambilnya, sebuah mobil
berjalan dengan kencang menuju ke arahku
tiba-tiba terdengar juga suara bapak yang berteriak, tapi aku tidak tahu apa
yang bapak bicarakan, badanku terasa kaku.
Aku
terlempar keluar dari jalanan beraspal begitu saja, seperti ada yang
mendorongku. Saat kesadaranku mulai pulih, aku melihat sesosok lelaki yang
sedang tertidur di jalan beraspal dengan darah yang mengalir. Aku hampiri
laki-laki itu, karena bagaimana pun juga dia telah menolongku bahkan
menyelamatkanku dari maut.
Saat
aku berada di sampingnya… badanku terasa begitu kaku, rasanya hampir sama
seperti saat aku hampir tertabrak, bahkan aku tidak bisa merasakan apapun saat
ini, aliran darahku serasa berhenti, dan air mataku keluar dengan sangat deras.
Aku merasa tidak yakin dengan apa yang aku lihat, apakah… apakah… benar… aku
menangis dengan terisak. Aku langsung memeluk pria itu, tidak peduli darah
membuat bajuku kotor karena bagaimanapun juga ia adalah ayahku.
Tiga hari kemudian
Setelah
kejadian itu, aku merasa sangat terpuruk tapi aku tahu diriku tidak akan maju
jika selalu terpuruk apalagi dengan kenangan masa lalu, itu yang dikatakan
bapak padaku sehari sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Hari
ini adalah saat dimana aku harus membacakan puisi. “Kinara Adiyawati.” Seorang
mc memanggil namaku, dan aku pun harus maju. Aku maju ke atas panggung kemudian
memberi salam dan barulah aku membacakan puisiku.
Ayam berkokok dan
matahari baru muncul dari tempat peristirahatannya
Sebuah senyum hangat
menyapaku
Senyum yang membuat
perasaanku selalu tenang
Ayah, dia ayahku
Ayahku yang bekerja
sebagai seorang pembersih jalan
Pekerjaan yang sering
dianggap pekerjaan rendahan oleh orang-orang
Bahkan terkadang aku
malu untuk mengakuinya
Bahwa ayahku adalah
seorang pembersih jalan
Ejekkan dan celaan
sudah sering aku dengar
Ya, hatiku memang
sakit
Sakit sekali
Tapi, ia telah
mengajarkanku bagaimana aku harus memperlakukan sebuah sampah
Sampah yang sering
orang abaikan
Membedakan sampah,
memperlakukan sampah, dan memanfaatkan sampah
Ia mengajarkanku
semua itu hingga aku mengerti
Hingga aku sadar
Pekerjaan ayahku
sangat mulia
Karena tanpanya
jalanan akan terlihat kotor, bahkan sangat kotor
Aku bangga pada
ayahku, ayahku sang pembersih jalan
19 tahun kemudian
Bagaikan
mimpi, sekarang aku menempati rumah mewah. Sekarang aku memiliki dapur dengan
peralatan yang lengkap dan kompor berbahan bakar gas. Semua yang aku dapatkan
ini berasal dari didikanmu, ayah. Karena ajaranmu padaku mengenai lingkungan
aku dapat menjadi seperti ini, aku dapat maju dengan berbekal ilmu darimu.
Menteri Lingkungan Hidup, sekarang aku mendapat jabatan itu. Sepatu bututku,
tas plastikku, sapu lidimu, dan pakaian oranyemu kini tersimpan di museumku,
semua itu adalah pengingatku akan dirimu. Terimakasih atas didikanmu ayah.
Ini cerpen waktu ikut lomba tingkat JakPus
Karena Mimpi
“Seraaang!,” suara-suara kegaduhan
yang kudengar saat ini. Orang-orang berseragam putih abu-abu yang berada di sekitarku saling
melempar batu, beberapa orang membawa benda-benda tajam. Para siswa SMA berlari
ke sana sini, dan terlihat beberapa siswa yang terkapar ke jalan dan darah segar mengalir dari
badanya, sungguh mengerikan kejadian ini. Dan mengapa aku harus berada di
tengah orang-orang ini?
Rasa
cemas mengerubungiku, keringat bercucuran dari badanku, jantungku berdegup
kencang. Aku menggigit bibir bawahku dengan kencang hingga tanpa sadar aku
telah menyakiti diriku sendiri. Berada di antara orang-orang yang sedang
mempertaruhkan nyawa mereka demi hal yang sia-sia bukanlah hal yang baik tapi
hal yang sangat buruk. Jika aku berdiam di sini aku akan terluka, dan inilah
saatnya mengambil ancang-ancang untuk ber, “lariii…,” ucapku dengan suara
lantang, aku tidak pernah menyangka bahwa lariku bisa secepat ini jika dalam
situasi gawat.
Berlari
dengan cepat membuatku hampir menabrak beberapa penghalang yang ada di depanku,
termasuk orang ini. Seseorang dengan baju yang kotor dan benda tajam yang
dibawanya membuatku tersentak kaget sehingga memaksaku untuk mengehentikan lari
dengan tiba-tiba. Orang itu mendekatiku sambil menunjukan celurit yang ada di
tangan kanannya, ia semakin mendekatiku, mendekat dan mendekat. Kejadian ini
membuat jantungku berdegup tak beraturan. Mati aku. Ya Tuhan, selamatkan aku
dari orang-orang ini. Tiba-tiba orang di depanku terjatuh, yang kulihat
kepalanya berdarah! Kupikir ia terkena lemparan batu, dan itu berarti sekarang
saatnya aku pergi dari sini. Secepatnya! Sebelum ada orang lain yang mencegatku
lagi.
“Hu…hu…
untung saja,” aku membungkuk, meletakkan satu tanganku di lutut dan satu lagi
di perutku yang terasa sakit akibat berlari. Kejadian ini cukup melelahkan
bagiku dan membuat pikiranku kacau.
Di
saat seperti ini, pasti perutku lapar dan mengingatkanku pada aroma telur yang
berpadu dengan ketan. Kerak telor buatan bapak. Hanya dengan membayangkan saja,
aku sudah tahu bagaimana rasanya dan hanya dengan membayangkan saja dapat
membuatku menikmati kelezatannya. Walaupun aku menginginkan kerak telor bapak,
yang aku butuhkan sekarang adalah air!
Tempat
terdekat saat ini adalah toko kelontong milik koh Aliong. Toko yang bernuansa
merah dan toko yang berpenjaga. Aku harus berjalan dengan hati-hati, bukan
karena jalan setapak yang licin tapi aku takut akan membangunkan sang penjaga.
Anjing bulldog milik koh Aliong.
“Haiya…
mau beli apa Kamu?,” ucapan koh Aliong yang tiba-tiba berhasil membuatku kaget hingga
aku terloncat.
“Ah,
Ngkoh bikin kaget aja,” ucapku sambil mengelus dada dan mencoba berdiri.
Setelah tubuhku berhasil berdiri tegak…
“Guk…
guk!,” anjing bulldog koh Aliong bersuara dan terdengar menakutkan bagiku dan
karena itu usahaku menghindari anjing koh Aliong gagal!
“,
Tuh kan, Koh, anjingnya jadi bangun, Engkoh sih!,” aku menyalahkan koh Aliong
atas kejadian ini! “Yaudah, aku mau beli botol air mineral ya, Koh,” aku
mengambil botol air mineral dari kulkas warna merah yang merupakan warna
favorit koh Aliong.
Cara
minumku yang seperti orang kesurupan tidak kupedulikan, yang kupedulikan
hanyalah bahwa aku haus! Sangat haus. Setelah air dalam botol habis, aku baru
menyadari bahwa bukan bajuku yang basah melainkan anjing koh Aliong yang sedari
tadi memperhatikanku dengan lidah yang menjulur dan air liurnya mengalir,
“iyeekh…,” menjijikan!
“Ara
kecapekan ya? Apa karena habis latihan nari topeng?,” tanya koh Aliong meledek,
ia menggiringku untuk masuk ke tokonya.
Emm… tunggu! Menari bukanlah alasan bagiku untuk lelah, karena menari sudah
menjadi bagian dalam hidupku, dengan menari aku dapat mengungkapkan perasaanku,
dengan menari aku dapat berkarya, dan karena menari juga aku harus berbohong.
“Bukan, Koh, tapi gara-gara tawuran!,” jawabku dengan ketus, bagaimana tidak?
Karena tawuran, nyawaku hampir melayang.
“Bagaimana,
ada berita baru, Ra?,” tanya koh Aliong, pertanyaan koh Aliong berhasil
membuatku semangat lagi! Sepertinya koh Aliong selalu tau apa yang baru saja
terjadi pada latihan menariku, karena dugaannya benar! Guru tariku memberi
kabar bahwa kelompok tari kami akan pentas.
“Ngkoh
tau aja,” ucapku sambil tersipu malu, aku pun menunjukkan gerakan-gerakan baru.
Menggerakkan beberapa anggota badan untuk menari adalah kebahagiaan tersendiri
untukku. Bagai melepaskan beban yang berat.
Kegiatan
menari ini tidak pernah terlihat oleh bapak dan ibu, hanya koh Aliong yang
tahu. Aku sengaja sembunyi-sembunyi saat latihan karena jika mereka tahu,
mereka pasti akan marah padaku, mereka tidak pernah mengizinkanku menari, yang
mereka inginkan dariku adalah belajar dan belajar agar aku sukses. Untuk itulah
aku terpaksa berbohong pada bapak dan ibu, berbohong bahwa aku pulang sore
karena aku ada pelajaran tambahan. Sejujurnya, aku merasa bersalah karena
membohongi mereka tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku ingin
menari. Maafkan aku ayah, ibu!
Sebenarnya
aku tahu maksud ayah melarangku menari, ia ingin aku menjadi seorang pengusaha
agar aku tidak hidup susah seperti sekarang. Pekerjaan ayah sebagai penjual
kerak telor yang membuat ayah melarangku, hasil dari menjual kerak telor kurang
cukup untuk memenuhi kehidupan kami. Dan ibu telah menjadi ibu rumah tangga
terbaik yang pernah aku kenal, walaupun ibu juga tidak setuju tapi ibu selalu
memberikanku motivasi untuk maju.
Setiap
hari, aku selalu pulang sore untuk latihan menari sampai hari ini. Berada di
sebuah ruangan besar yang dindingnya dilapisi kaca di mana-mana, musik betawi
yang mengalun membuatku bergerak melenggok-lenggokan badanku menyamakan dengan
ketukan. Berada di ruangan ini seperti berada dalam sebuah dunia yang berbeda,
dunia tanpa kesedihan dan kepedihan, yang ada hanya dunia seni yang indah.
Latihan
hari ini usai sekarang saatnya aku pulang ke rumah bukan ke toko kelontong
milik koh Aliong yang berpenjaga menyeramkan itu. Semoga saja tidak terjadi tawuran
lagi seperti seminggu yang lalu.
Keluar
dari ruangan tari membuatku kembali lesuh dan harus teringat akan kebohonganku
lagi, kebohongan demi keinginanku. Apakah aku salah? Apakah aku durhaka? Aku
memilih jalanku sendiri dan terpaksa membohongi kedua orang tuaku.
Aku
berjalan keluar, beberapa teman tariku mengucapkan selamat tinggal padaku,
“sampai jumpa!,” balasku dengan senyum pada mereka. Aku membalik badanku dan
saat itu juga senyumku memudar berganti dengan wajah takut, badanku terasa kaku
tidak bisa bergerak, jantungku berdegup kencang seakan ingin copot, “Bapak,”
ucapku begitu saja. Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan
tiba-tiba saja bapak menarikku ke tempat yang lebih sepi. Apa yang harus aku
lakukan sekarang? Aku tidak bisa mengelak lagi.
“Sudah
berapa kali bapak bilang bahwa Kamu tidak boleh ikut menari! Tapi Kamu masih
tidak mau menuruti kata-kata bapak!,” bentak bapak padaku, aku yakin ia sangat
marah padaku, aku sudah membohonginya!
Aku
membuka mulut untuk bicara tapi bapak mendahuluiku, “Kamu benar-benar kelewatan
Ara! Bapak sudah mempercayai Kamu, tapi Kamu menghianati kepercayaan bapak!
Bapak kecewa sama Kamu!,” kata bapak, . Kini aku semakin terdesak.
Aku
tidak bisa seperti ini, aku ingin bapak tahu, aku ingin bapak mengerti, “Maafin
Ara, Pak, Ara tidak bermaksud membohongi Bapak atau pun ibu tapi Ara juga tidak
bisa membohongi diri Ara sendiri kalau Ara ingin menari. Karena Ara merasa
menari adalah diri Ara! Dengan menari, Ara merasa bebas, Ara merasa semua beban
ini terasa ringan,” ucapku sambil terisak, air mataku mengalir deras.
“Bapak
tidak ingin Kamu menjadi penari! Bapak ingin Kamu menjadi pengusaha! Agar kita
tidak terus terpuruk seperti sekarang ini!,” setelah mengucapkan
kata-kata itu, bapak langsung pergi meninggalkanku sendirian. Setelah bapak
pergi, tangisku pecah. Apakah aku salah jika aku ingin menjadi penari? Apa
salah jika seorang anak penjual kerak telor menjadi penari?
Aku
berjalan pulang dengan lesuh, dan tidak menyadari bahwa sekarang adalah saat
yang buruk. Batu-batu berterbangan di udara, hujan batu! Dan sesaat aku
menyadari bahwa sekarang tawuran antar pelajar SMA sedang berlangsung. Aku
seperti orang yang tak tau arah, fikiranku kacau, badanku terasa kaku tak bisa
bergerak, apa yang terjadi? Ayo Ara lari! Lari! Kamu harus lari! Tidak. Tidak
bisa! Aku tidak bisa berlari.
“Duk!,”
suara kencang yang terasa menyakitkan untuk kepalaku. Semua terasa bergoyang
dan buram, kepalaku sakit. Kupegang kepalaku dan ternyata, darah. Ternyata
suara itu adalah batu yang berhasil membentur kepalaku, dan semua menjadi
gelap.
Semua
berwarna putih saat aku mulai membuka mata, dan aku tahu di mana ini. Rumah
Sakit. Karena baunya aku tau, bau rumah sakit tidak bisa dibohongi. Kepalaku
pusing, sangat pusing, dan langsung saja aku teringat peristiwa yang terakhir
kali terjadi padaku. Kebohonganku terbongkar.
Aku
menggunakan mataku untuk melihat-lihat ruangan dan mataku tertuju pada seorang
yang tak asing bagiku, seorang yang aku
bohongi. Bapak. Aku melihat bapak berbicara, tapi mengapa aku tidak
mendengarnya. Aku mencoba dan mencoba agar aku bisa dengar tapi mengapa aku
tidak bisa dengar, aku mencoba mengeluarkan suara, aku mencoba bertanya,
“apa?,” dan bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku. Sebenarnya ada apa ini?
Apa aku tuli sekarang? Apa telingaku sudah tidak dapat berfungsi lagi?
Setelah
kejadian itu, duniaku sungguh berbeda, dunia yang sunyi, dunia yang sepi tanpa
musik, musik yang dapat menggerakkan anggota badanku melenggak-lenggok bak
penari profesional. Kini impianku pupus, impianku menjadi penari professional.
Mungkin ini memang karma untukku karena telah membohongi kedua orang tuaku. Aku
harusnya mematuhi mereka bukan membohongi mereka. Tapi aku tidak akan menyerah!
Aku akan tetap menari! Bukan sembunyi-sembunyi tapi di hadapan mereka, aku akan
membuktikan pada mereka bahwa aku bisa walaupun tanpa mendengar musik
sekalipun!
Aku
mencoba berlatih dan berlatih menari di hadapan mereka dengan menggunakan
ketukan. Berkali-kali bapak mencoba menghentikanku dengan marah padaku, aku pun
berhenti. Namun berkali-kali juga aku kembali menari, menari dengan senyuman
walaupun bersamaan dengan keluarnya air mataku keluar. Aku tidak peduli! Aku
ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa! Dan akhirnya aku bisa. Aku dapat
mengusai semua gerakan dan dapat menarikannya sesuai dengan ketukan.
Hari
ini adalah hari dimana aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa. Musik
mulai mengalun, walaupun aku tidak dengar tapi aku tau karena teman-temanku
member isyarat. Aku mulai memasuki panggung yang dipenuhi cahaya lampu. Lantai
panggung terasa dingin di kakiku. Dilihat oleh banyak penonton adalah salah
satu harapanku dan diantara penonton itu ada bapak dan ibu.
Pertunjukan
kami selesai, semua penonton memberi tepukan yang meriah untuk kami, aku merasa
bangga pada diriku sendiri. Bukan karena aku berhasil menari dengan sempurna,
tapi aku dapat membawa bapak dan ibu untuk melihat pementasanku, karena dengan
kedatangan mereka semangatku untuk tampil lebih baik semakin tinggi. Terima
kasih ayah, ibu.
Saatku keluar dari panggung, aku dikejutkan
akan kehadiran bapak dan ibu. Tiba-tiba mereka memelukku, sangat erat. Aku
yakin mereka berbicara sesuatu padaku walaupun aku tidak dapat mendengarnya.
Aku merasa bajuku basah, mungkin ini keringat yang mengucur karena tegang saat
di panggung.
Ibu
dan bapak melepaskan pelukan mereka dan aku sadar, mereka menangis. Pantas saja
bajuku basah. Tapi tak apa yang penting hari ini adalah hari terbahagiaku.
Bapak menulis sesuatu di kertas, “BAPAK DAN IBU TIDAK AKAN MELARANGMU MENARI
LAGI,” Dan saat ini aku sangat yakin, hari ini adalah hari dimana aku
benar-benar dapat menghapus beban yang selama ini tersimpan di dalam hati dan
juga fikiranku.
Satu
hal yang selalu aku ingat, mimpi. Dengan mimpi aku dapat meraih impianku.
21 Juli 2013
Namaku "Cantik"
Awalnya aku kaku, diam tak berkutik. Kemudian ia menyapaku, menanyakan namaku, aku diam. Aku takut jika ia mengetahui namaku, aku sendiri tidak tahu datang dari mana ketakutan itu. Ia terus mendesakku, tapi aku tetap diam.
Rasanya semakin berdebar, aku pun menggigit bibir bawahku dan menatap lantai yg terlihat hampa. Apa yang harus kulakukan? Memberi tahukan namaku? Aku sendiri takut ketika menyebutnya. Nama yang sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi kedengarannya klise.
"Harus kah aku yang memperkenalkan diri duluan?," aku menengok ke arahnya, laki laki itu tersenyum, terlihat manis dengan lesung pipi di kanan dan kirinya. Senyumnya seolah tidak dibuat buat.
Entah bagaimana rasanya aku juga ingin memperkenalkan namaku, ya Tuhan, senyum seperti sihir yang dengan mudah membuatku berubah pikiran.
"Namaku Yusuf," dia mengulurkan tangannya yang terlihat besar, ia tidak ragu saat melakukannya bahkan terlihat sangat bersemangat sekali, "jadi siapa namamu?" haruskah aku merobohkan tembok pertahananku ini? Membiarkannya tahu namaku dan ia akan menertawakanku?
"Namaku Cantik." Kataku akhirnya, aku benar benar tersihir oleh senyumnya, dah bahkan matanya yang terlihat berkilat. Dia diam, membuatku merasakan takut ia akan menertawaiku.
Ia terlihat sedang berpikir, senyumnya yang manis menjadi hilang, rasanya aku ingin senyum itu selalu ada di wajahnya. "Emm... cantik...," sepertinya ia mulai mengetahui sesuatu, karena senyumnya telah kembali, "jadi, Cantik, memang cantik," hantaman yang berbeda! Rasa yang seperti ini baru aku rasakan sekarang. Rasa yang yang membuatku berbeda. Aku pun memalingkan wajahku dari Yusuf, takut jika wajahku memerah. "Namamu Cantik sesuai ya, kamu cantik." Dan saat ini aku benar benar tidak bisa menyembunyikan senyumku darinya.
"Terima kasih, Kamu juga sama, namamu Yusuf, terlihat ganteng." Kataku dengan malu malu, dan dia pun tertawa. Ya Tuhan, biarkan ia tetap di sini.
Rasanya semakin berdebar, aku pun menggigit bibir bawahku dan menatap lantai yg terlihat hampa. Apa yang harus kulakukan? Memberi tahukan namaku? Aku sendiri takut ketika menyebutnya. Nama yang sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi kedengarannya klise.
"Harus kah aku yang memperkenalkan diri duluan?," aku menengok ke arahnya, laki laki itu tersenyum, terlihat manis dengan lesung pipi di kanan dan kirinya. Senyumnya seolah tidak dibuat buat.
Entah bagaimana rasanya aku juga ingin memperkenalkan namaku, ya Tuhan, senyum seperti sihir yang dengan mudah membuatku berubah pikiran.
"Namaku Yusuf," dia mengulurkan tangannya yang terlihat besar, ia tidak ragu saat melakukannya bahkan terlihat sangat bersemangat sekali, "jadi siapa namamu?" haruskah aku merobohkan tembok pertahananku ini? Membiarkannya tahu namaku dan ia akan menertawakanku?
"Namaku Cantik." Kataku akhirnya, aku benar benar tersihir oleh senyumnya, dah bahkan matanya yang terlihat berkilat. Dia diam, membuatku merasakan takut ia akan menertawaiku.
Ia terlihat sedang berpikir, senyumnya yang manis menjadi hilang, rasanya aku ingin senyum itu selalu ada di wajahnya. "Emm... cantik...," sepertinya ia mulai mengetahui sesuatu, karena senyumnya telah kembali, "jadi, Cantik, memang cantik," hantaman yang berbeda! Rasa yang seperti ini baru aku rasakan sekarang. Rasa yang yang membuatku berbeda. Aku pun memalingkan wajahku dari Yusuf, takut jika wajahku memerah. "Namamu Cantik sesuai ya, kamu cantik." Dan saat ini aku benar benar tidak bisa menyembunyikan senyumku darinya.
"Terima kasih, Kamu juga sama, namamu Yusuf, terlihat ganteng." Kataku dengan malu malu, dan dia pun tertawa. Ya Tuhan, biarkan ia tetap di sini.
23 Desember 2012
Tau Judul yang Pas?
Hai!!! Lama gak ngepost, jadi kangen {}!!
Udah masuk liburan semester menuju tahun baru nih, gimana kabar kalian semua (yang baca) ? Ngomong-ngomong udah pada bagi rapor ya? Huaaa gue belom >< makin deg-degan tau gak?!
Oiya, kalian denger isu-isu tentang kiamat tanggal 21-12-12 kan? Dan sekarang kalian tau kan kalo itu gak bener, lagi pula jangan percaya sama gituan! Musyrik! Fine, pindah topik lagi!!
"Gue bingung","bingung pegangan"-_- gue kesel kalo lagi bingung malah disuruh pegangan, emangnya mau jatoh? Bingung ya kasih ide kek. Lagian itu kata-kata dari siapa sih, sotoy banget wkwk ^o^
Lama juga gak nulis cerita-cerita lagi di blog, gimana cerita-ceria yang sebelumnya? About LOVE, pasti bosen ya? sama, gue juga! Kalo ngebahas tentang cinta itu gak akan selesai karena ceritanya muter-muter doang, mending fiksi yagak? Menantang! Doain ya biar bisa bikin cerita fiksi :)
Sumpah ya, sekarang tuh lagi gak jelas perasaannya gak nentu banget, kadang kesel, kadang enggak, kadang bosen, kadang enggak, mood maunya apaan coba? Mood itu lagi kangen sama SAHABAT KELAS 88!! Kangen banget sama mereka!! nyanyi bareng, ngaji bareng, pulang bareng, pergi bareng, jajan bareng, solat bareng, bareng-bareng semua... gak semua sih... tapi, pokoknya kangen masa-masa itu!
Udah masuk liburan semester menuju tahun baru nih, gimana kabar kalian semua (yang baca) ? Ngomong-ngomong udah pada bagi rapor ya? Huaaa gue belom >< makin deg-degan tau gak?!
Oiya, kalian denger isu-isu tentang kiamat tanggal 21-12-12 kan? Dan sekarang kalian tau kan kalo itu gak bener, lagi pula jangan percaya sama gituan! Musyrik! Fine, pindah topik lagi!!
"Gue bingung","bingung pegangan"-_- gue kesel kalo lagi bingung malah disuruh pegangan, emangnya mau jatoh? Bingung ya kasih ide kek. Lagian itu kata-kata dari siapa sih, sotoy banget wkwk ^o^
Lama juga gak nulis cerita-cerita lagi di blog, gimana cerita-ceria yang sebelumnya? About LOVE, pasti bosen ya? sama, gue juga! Kalo ngebahas tentang cinta itu gak akan selesai karena ceritanya muter-muter doang, mending fiksi yagak? Menantang! Doain ya biar bisa bikin cerita fiksi :)
Sumpah ya, sekarang tuh lagi gak jelas perasaannya gak nentu banget, kadang kesel, kadang enggak, kadang bosen, kadang enggak, mood maunya apaan coba? Mood itu lagi kangen sama SAHABAT KELAS 88!! Kangen banget sama mereka!! nyanyi bareng, ngaji bareng, pulang bareng, pergi bareng, jajan bareng, solat bareng, bareng-bareng semua... gak semua sih... tapi, pokoknya kangen masa-masa itu!
Langganan:
Postingan (Atom)
